"Selamat Datang... Demi Perkembangan Blog Ini di Mohon Mengisi Form Komentar"

Friday, August 7, 2009

KI HAJAR DEWANTARA


Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Nama asli beliau adalah Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Pada saat beliau berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, beliau pun berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Beliau tidak menggunakan lagi gelar kebangsawanannya supaya beliau dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Beliau menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda). Lalu beliau melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat. Setelah itu, beliau bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, diantaranya adalah Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Tulisan tulisan beliau sangat komunikatif dan menggugah semangat antikolonial bagi para pembacanya.
Selain berprofesi sebagai wartawan, beliau juga aktif dalam organisasi social dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Selanjutnya pada tanggal 25 Desember 1912, beliau bersama dengan Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Kemudian, mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.
Mereka pun mendaftarkan organisasi ini kepada pemerintah kolonial Belanda supaya mendapat status badan hukum, tetapi ditolak oleh Gubernur Jendral Idenburg pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg pada tanggal 11 Maret 1913. Alasannya adalah organisasi ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.Setelah penolakan tersebut, beliau membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Pembentukan komite ini dimaksudkan unKomite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut. Ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker itu antara lain berbunyi: "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu.
Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".Akibatnya, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman berupa internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Namun Raden Mas Soewardi menghendaki dibuang Negeri Belanda. Akhirnya beliau diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.
Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Lagi lagi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memberontak. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Raden Mas Soewardi untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Lalu pada tahun 1918 beliau kembali ke tanah air dan langsung mencurahkan perhatiannya pada masalah pendidikan di tanah air. Pada tanggal 3 Juli 1922mbersama reka rekannya, beliau mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa). Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Lagi lagi pihak Belanda berusaha merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.
Sementara itu, pada zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Setelah zaman kemedekaan, Ki Hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Beliau juga menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. dua thaun kemudian, tepatnya tanggal 28 April 1959 beliau tutup usia di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).
Untuk menghormati jasa jasa beliau, maka tanggal lahir beliau yaitu tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional dan juga beliau dianugerahi Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.
Nama:Ki Hajar Dewantara

Nama Asli:Raden Mas Soewardi Soeryaningrat

Lahir:Yogyakarta, 2 Mei 1889

Wafat:Yogyakarta, 28 April 1959

Pendidikan:= Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda)= STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tidak tamat= Europeesche Akte, Belanda= Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957

Karir:= Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara= Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922= Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.Organisasi:= Boedi Oetomo 1908= Pendiri Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) 25 Desember 1912Penghargaan:Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan NasionalPahlawan Pergerakan Nasional (surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)


Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget

Followers

Sumber Pengunjung yg Telah Membaca Blog ini

Pengunjung Sedang On-line
Total Pengunjung
Bunga-Bangsa.Blogspot.Com
There was an error in this gadget