"Selamat Datang... Demi Perkembangan Blog Ini di Mohon Mengisi Form Komentar"

Saturday, December 5, 2009

Sejarah Soempah Pemoeda

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial hindia belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
Apabila kita ingin mengetahui lebih lanjut mengenai banyak hal tentang Sumpah Pemuda kita bisa menunjungi Museum Sumpah Pemuda yang berada di Gedung Sekretariat PPI Jl. Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Museum ini memiliki koleksi utama seperti biola asli milik Wage Rudolf Supratman yang menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta foto-foto bersejarah peristiwa Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak sejarah pergerakan pemuda-pemudi Indonesia.

Sunday, November 22, 2009

Kristina Martha Tiyahahu


Kristina Martha Tiyahahu
Kristina Martha Tiyahahu dilahirkan di Nusa Laut,kepulauan Maluku pada tahun 1801. Beliau turut berjuang mendampingi ayahnya dalam pertempuran merebut benteng Beverwijk di Negeri Sila Leimatu. Pada tanggal 10 November 1817, Belanda berhasil merebut benteng Beverwijk. Beliau serta ayahnya dan beberapa orang pimpinan perlawanan tertangkap Belanda. Ayahnya dijatuhi hukuman mati. Kristina meminta kepada penguasa Belanda agar dia diperkenankan untuk menggantikan ayahnya menjalani hukuman mati tersebut namun permintaan itu ditolak. Tanggal 17 November, ayahnya menjalani hukuman mati tersebut. Dengan tenang Kristina menyaksikan hukuman mati tersebut. Tidak ada air mata yang menetes dari matanya. Setelah itu, beliau mengumpulkan para pengikutnya dan menyusun kekuatan, tetapi tertangkap pula sebelum mengobarkan perlawanan. Beliau dijatuhi hukuman dibuang ke Pulau Jawa, sebagai pekerja paksa di perkebunan kopi. Sebelum berangkat, beliau sempat dibujuk untuk bekerja sama dengan belanda, namun usul itu ditolak mentah mentah. Beliau jatuh sakit diatas kapal yang akan membawanya ke Pulau Jawa. Beliau menolak diobati oleh orang Belanda. Pada tanggal 1 Januari 1818 beliau meninggal dunia dalam perjalanan menuju Pulau Jawa. Jenazahnya dibuang di laut antara Pulau Buru dan Pulau Tiga. Berdasarkan surat Keputusan Presiden RI No 012/TK/Tahun 1969,tanggal 20 Mei 1969, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Saturday, November 14, 2009

Marsma TNI Anumerta R. Iswahyudi

Marsma TNI Anumerta R. Iswahyudi
Iswahyudi dilahirkan di Surabaya pada tanggal 15 Juli 1918. beliau menamatkan pendidikan HIS,MULO di Surabaya dan AMS di Malang. Beliau sempat mengikutin pendidikan di sekolah dokter di Surabaya namun tidak sampai selesai. Pada tahun 1941, beliau mengikuti pendidikan pada sekolah Penerbang di Kalijati Jawa Barat dan berhasil memperoleh Klein Militaire Brevet. Pada waktu Jepang, memasuki Indonesia. Pada bulan Maret 1942, beliau diungsikan oleh Pemerintah Belanda ke Australia. Pada tahun 1943, beliau melarikan diri dengan menggunakan perahu karet kembali ke Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, beliau ikut mempertahankan kemerdekaan dengan masuk AURI. Beliau juga pernah menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut Bukittinggi, pada waktu itu organisasi di Sumatra belum tersusun dengan baik. Beliau pernah diangkat sebagai wakil AURI dalam Komandemen Tentara Sumatra, meskipun berbahaya, beliau pernah membuka hubungan dengan Luar Negeri guna mencari senjata dan batuan lainnya yang diperlukan dalam perjuangan. Pada bulan Desember 1947, bersama dengan Abdul Halim Perdanakusumah, beliau berangkat ke Bangkok untuk menjalankan tugas Negara. Pada tanggal 14 desember 1947, pesawat yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin. Pesawat itu jatuh dan hancur di Tanjung Hantu Malaysia. Lalu beliau dimakamkan di Luhut,Malaysia. Lalu pada tahun 1975, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No 063/TK.Tahun 1975,tanggal 9 Agustus 1975, beliau dianugerahi tanda kehormatan sebagai Pahwalan Nasional.


Nyi Ageng Serang


Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang dilahirkan di Serang,dekat Purwodadi,Jawa Tengah pada tahun 1752, dengan nama R.A Kursiah Retno Edhi. Ketika beliau sudah dewasa, beliau turut memimpin pasukan melawan Belanda, tetapi dalam pertempuran, beliau ditawan dan dibawa ke Yogyakarta, namun kemudian dikembalikan ke Serang. Pada waktu Perang Diponegoro pada tahun 1825 sampai 1830, beliau menggabungkan diri dengan pasukan diponegoro dan diangkat sebagai pini sepuh disamping Pangeran Mangkubumi. Nasehat nasehat dari beliau selalu didengar oleh pasukan Diponegoro. Dengan pasukannya, beliau bergerak di derah Serang,Purwodadi,Gundih,Kudus,Demak,Juwana dan Semarang dan pernah pula di tugaskan mempertahankan daerah Prambanan. Karena beliau sudah berusia lanjut, pada setiap pertempuran, beliau selalu ditandu. Atas nasehatnya pula, pasukan Diponegoro memakai daun lumbu dalam pertempuran. Daun tersebut digunakan sebagai pelindung kepala dan juga untuk menyamar agar tidak mudah diketahui oleh musuh. Beliau mengundurkan diri dari medan pertempuran karena sudah terlalu tua dan lemah. Beliau wafat di Yogyakarta pada tahun 1828. berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No, 084/TK/Tahun 1974,tanggal 13 desember 1974, beliau dianugerahi Pahlawan Nasional.

Sunday, October 25, 2009

KYAI HAJI MANSUR

KYAI HAJI MANSUR
Kyai Haji Mansur dilahirkan di Surabaya padatanggal 25 Juni tahun 1896. beliau belajar agama di Mekkah dan di Universitas al Azhar di Kairo. Selain itu beliau juga rajin mempelajari ilmu pengetahuan barat. Beliau mengajar di Pesantren Mufidah di Surabaya dan aktif pula dalam pergerakan nasional. Beliau menjadi anggota Muhammadiyah dan Persatuan Bangsa Indonesia atau PBI. Di Muhammadiyah, beliau aktif dari nol dari menjadi ketua cabang lalu menjadi konsul Muhammadiyah Jawa Timur lalu pada tahun 1937, menjadi ketua pucuk pimpinan Muhammadiyah. Beliau juga turut berpartisipasi dalam pembentukan Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi. Ketika pemerintah Jepang membentuk Pusat tenaga Rakyat atau PUTERA pada tahun 1943, beliau bergabung sebagai salah sati pemimpinnya. Sebetulnya beliau tidak menyukai cara kerja Jepang tetapi demi kepentingan umat Islam, akhirnya dengan terpaksa beliau menerima tugas tersebut. Pada tahun 1944, beliau kembali ke Surabaya dengan alasan kesehatannya terganggu. Namun beliau masih juga diangkat sebagai anggota Cuo Sangi In. menjelang proklamasi kemerdekaan, beliau bergabung menjadi anggota Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia atau PPKI. Sesudah kemerdekaan, beliau giat membantu pemuda pemudi Surabaya berjuang melawan Inggris. Karena kegiatannya itu dank arena beliau mempunyai pengaruh besar terhadap para pemuda, beliau di tangkap Belanda dan dipaksa untuk berpidato supaya pemuda Surabaya menghentikan perlawanannya terhadap belanda. Tetapi beliau tidak mau melakukannya. Belanda marah dan beliau pun dimasukkan ke dalam penjara sampai wafat. Beliau wafat pada tanggal 15 April pada tahun 1946, di penjara kalisosok, Surabaya. Berdasarkan surat keputusan Presiden RI No 162, Tahun 1964, tanggal 26 Juni 1064, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

SURYOPRANOTO


SURYOPRANOTO

Suryopranoto dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1871. Beliau mempunyai ijazah pendidikan pegawai negeri dan beliau juga pernah bersekolah di Sekolah Pertanian di Kota Bogor. Kegiatan beliau antara lain yaitu pernah diangkat menjadi Kepala Dinas Pertanian di Wonodono dan berhenti tahun 1914. pada tahun 1914, beliau mendirikan organisasi Adhi Darma yang bergerak di bidang Koperasi, usaha pertukangan dan lain sebagainya. Beliau juga mendirikan HIS Adhi Darma yang bertujuan untuk mendidik anak anak petani dan buruh. Beliau juga pernah menjadi anggota Pengurus Besar Sarekat Islam. Beliau juga memimpin kamu buruh yang tergabung dalam Personeel Fabrieks Bond atau PFB. Dalam kongres Sarekat Islam, beliau menganjurkan pemogokan kaum buruh untuk memperbaiki nasib. Atas tindakannya itu, beliau dijuluki De Stakingskoning atau Raja Mogok. Pada tahun 1919, beliau mendirikan sebuah badan untuk menolong keluarga buruh yang terkena pemecatan akibat pemogokan di Yogyakarta. Karena kegiatan itu, beliau masuk penjara di Malang pada tahun 1923. lalu pada tahun 1926 beliau masuk penjara di Semarang dan tahun 1933, masuk penjara di Sukamiskin,Bandung. Selain itu beliau juga aktif dalam bidang kewartawanan. Hasil karyanya antara lain menulis seri ensiklopedi tentang perjuangan sosialisme. Menulis buku yang berjudul Pengantar Ilmu Politik. Beliau wafat di Cimahi tanggal 15 Oktober tahun 1959 di Jawa Barat. Lalu dimakamkan di kota Gede,Yogyakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 310, Tahun 1959, tanggal 30 November 1959, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Saturday, October 24, 2009

MARIA WALANDA MARAMIS


MARIA WALANDA MARAMIS
Maria Walanda Maramis dilahirkan di Manado pada tanggal 1 desember 1872. beliau hanya menamatkan pendidikan Sekolah dasar. Sejak umur 6 tahun, beliau sudah menjadi anak yatim piatu dan sejak saat itu beliau diasuh oleh pamannya. Beliau banyak bergaul dengan orang orang terpelajar diantaranya adalah Pendeta Ten Hove. Karena pergaulan itu pengetahuannya bertambah luas. Beliau mempunyai cita cita untuk memajukan kaum wanita Minahasa. Mereka harus mendapat pendidikan yang cukup agar kelak mereka dapat mengurus rumah tangganya dan mendidik anak anaknya. Beliau pun menikah dengan Yoseph frederik Calusung Walanda, seorang guru HIS di Manado pada tahun 1890. dengan bantuan suaminya serta beberapa orang terpelajar, pada bulan Juli 1917, beliau mendirikan organisasi Percintaan Ibu kepara Anak Turunannya atau PIKAT. PIKAT ini bertujuan untuk mendirikan sekolah sekolah rumah tangga, untuk mendidik anak anak perempuan yang telah menamatkan SD. Pada bulan Juli 1918, berdirilah sekolah PIKAT yang pertama. Di sekolah itu diajarkan cara cara mengatur rumah tangga seperti memasak, menjahit, merawat bayi, dan pekerjaan tangan. Guru guru bekerja dengan sukarela untuk memajukan kaum wanita. Kepada murid muridnya beliau selalu menanamkan rasa kebangsaan dan dianjurkan agar selalu memakai pakaian daerah. Kalimatnya yang didoktrinkan kepada seluruh murid muridnya adalah PERTAHANKANLAH BANGSAMU. Beliau wafat di Maumbi ,Manado pada bulan Maret 1924. dan dimakamkan di Maubi Manado. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No, 021.TK/Tahun 1969,tanggal 20 Mei 1969, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Pergerakan Nasional




ARIE FREDERIK LASUT.


ARIE FREDERIK LASUT.
Arie Frederik Lasut dilahirkan di Tondano, Sulawesi Utara pada tanggal 6 JUli 1918. Beliau menamatkan pendidikannya di sekolah Guru di Ambon dan kemudian beliau pindah ke Bandung. Selanjutnya beliau pindah lagi ke Jakarta ke sekolah AMS dan berhasil menamatkan pendidikannya. Tahun 1937-1938,beliau melanjutkan ke sekolah kedokteran namun tidak sampai selesai. Tahun 1939, beliau bersekolah di Sekolah Teknik Tinggi di Bandung, dan mendapat beasiswa dari Dinas Pertambangan namun tidak selesai karena Perang Dunia II meletus. Selanjutnya beliau mengikuti pendidikan di Corps Opleiding Voor Reserve Officieren atau CORO. Beliau pernah bekerja di Departemen Urusan Ekonomi. Beliau juga pernah betempur melawan Jepang di Ciater,Bandung. Pada zaman pendudukan Jepang, beliau berkerja sebagai asisten Geologi pada jawatan geologi di Bandung. Sesudah Indonesia merdeka, beliau mempelopori pengambil alihan Jawatan tersebut dari kekuasaan Jepang. dan akhirnya beliau diangkat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi. Beliau juga turut membentuk organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi Selatan atau KRISS. Bulan September 1946, Jawatan Tambang dan geologi dipindahkan ke Tasikmalaya. Di Magelang, beliau mendirikan Sekolah Pertambangan Geologi Menengah dan Tinggi. Selain sebagai Kepala Jawatan Pertambangan, beliau juga duduk dalam Komite Nasional Indonesia Pusat. Belanda pun berusaha membujuknya untuk bekerja sama namun usul itu ditolak mentah mentah. Hal ini membuat pihak Belanda semakin marah karena beliau malah mengadakan kerja sama denagn pihak asing selain Belanda. Pada tanggal 7 Mei 1949, beliau di culik di rumahnya di Yogyakarta oleh Polisi Militer Belanda dan dibawa ke Pakem disanalah beliau di tembak mati. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.012/TK.Tahun 1969,tanggal 20 Mei 1969 beliau dianugerahi Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Friday, October 16, 2009

Sultan Badaruddin II


Sultan Badaruddin II
Beliau dilahirkan pada tahun 1768. beliau adalah putra Sultan Muhammad Badaruddin. Nama kecilnya adalah Raden Hasan. Selain menguasai bahasa arab dan hafal isi kitab Al-quran dengan fasih, beliau juga dapat berbahasa Portugis dnegan baik. Ketika utusan Raffles datang ke Palembang untuk mengambil alih kongsi Belanda di Palembang, beliau menolaknya. Bahkan kedatangan utusan itu disambut dengan perlawanan yang sengit. Karena persenjataan yang kurang lengkap, maka perlawanan diubah menjadi perang gerilya. Pasukan Inggris kewalahan dan akhirnya tetap mengakui kesultanan Palembang. Pasukan Belanda datang berkali kali ke Palembang tetapi selalu saja disambut dengan perlawanan yang sengit. Akhirnya Belanda pun menguunakan strategi liciknya yaitu menjebak. Belanda pura pura mengajak beliau berunding tetapi beliau malah ditangkap dan dibuang ke Ternate. Beliau berada di pengasingan selama 31 tahun dan akhirnya wafat pada tanggal 26 November 1852. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No, 063/’TK/Tahun 1984,tanggal 29 Oktober 1984. beliau dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional

Haji Samanhudi


Haji Samanhudi
Haji Samanhudi dilahirkan di Lawayen Solo pada tahun 1868. beliau tidak mengikuti pendidikan SD sampai tamat namun beliau belajar mengenai agama islam di Surabaya. Selain belajar agama, beliau juga berdagang batik di Surabaya. Pada tahun 1911, beliau mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo. Sarekat ini bertujuan untuk membela kepentingan pedagang pedagang Indonesia. Pada tanggal 10 september 1912, SDI dirubah menjadi Sarekat Islam dan menjadi partai politik. Beliau menjabat sebagai ketua umum SI sampai tahun 1914. Sejak tahun 1920, beliau tidak aktif lagi dalam partai karena masalah kesehatannya yang mulai terganggu. Tetapi perhatian dan ide ide pemikiran beliau terhadap pergerakan nasional tidak pernah padam. Sesudah indonesia merdeka, beliau mendirikan Barisan Pemberontak Indonesia Cabang Solo. Hal ini bertujuan untuk menghadapi ancaman serangan Belanda. Beliau juga mendirikan Gerakan Persatuan Pancasila. Sewaktu Belanda melancarkan aksi agresi militer yang kedua. Beliau membentuk suatu laskar yang bernama Gerakan Kesatuan Alap Alap yang ditugaskan untuk menyediakan perlengkapan terutama bahan makanan untuk tentara yang sedang bertempur. Beliau wafat di Klaten pada tanggal 28 Desember 1956 dan dimakamkan di desa Banaran Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo,Solo. Atas jasa jasa beliau maka berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No, 590 Tahun 1961,tanggal 9 November 1961, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional.

Friday, September 25, 2009

DR. Gerengan Saul Samuel Jacob Ratulangi.


DR. Gerengan Saul Samuel Jacob Ratulangi.
Sam Ratulangi dilahirkan di Tondano,Manado pada tanggal 5 November 1890. Beliau menamatkan pendidikan di Hoofden School (Sekolah Raya) di Tondano. Beliau juga mengikuti pendidikan di Sekolah Teknik (KWS) di Jakarta. Pada tahun 1915, beliau mendapatkan ijazah guru ilmu Pasti dan Alam untuk Sekolah Menengah di Negeri Belanda. Pada tahun 1919, beliau mendapatkan gelar Doktor Ilmu Pasti dan Alam di Swiss. Beliau aktif dalam kegiatan organisasi di Belanda, diantaranya beliau pernah menjabat sebagai ketua Indische Vereniging yaitu organisasi pelajar pelajar Indonesia di Negeri Belanda. Beliau juga pernah menjabat sebagai ketua organisasi pelajar pelajar Asia sewaktu berada di Swiss.. setelah beliau kembali ke Indonesia, beliau mengajar ilmu pasti di AMS Yogyakarta. Beliau mendirikan Maskapai asuransi Indonesia ketika bertugas di Bandung. Pada tahun 1924-1927, beliau menjabat sebagai Sekretaris Dewan Minahasa di Manado. Pada tahun 1927, beliau menjadi anggota Volksraad. Beliau juga turut berpartisipasi dalam mendirikan Persatuan Kaum Sarjana Indonesia. Beliau juga menulis buku yang berjudul Indonesia in de Pacific. Pada tahun 1938 sampai dengan tahun 1942, beliau menjabat sebagai redaksi mingguan politik Nasionale Commenraren. Beliau juga ikut sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI. Pada tanggal 19 Agustus 1945, ketika PPKI membagi wilayah Indonesia menjadi 8 propinsi, beliau diangkat menjadi salah satu gubernur yang berkedudukan di Makasar (sekarang Ujungpandang). Beliau turut memperjuangkan Sulawesi supaya tidak dipisahkan dengan RI melalui PBB. Beliau ditangkap dan dibuang ke serui Irian Jaya. Setelah bebas, beliau kembali ditangkap pada saat terjadinya Agresi militer Belanda II. Beliau wafat di Jakarta pada tanggal 30 JUni 1949 dalam tawanan musuh dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Tondano Manado. Atas jasa jasa beliau, nama beliau diabadikan sebagai nama salah satu universitas yang terletak di Manado. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.590 Tahun 1961, tanggal 9 November 1961, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan kemerdekaan Nasional.

Thursday, September 24, 2009

Robert Wolter Monginsidi.


Robert Wolter Monginsidi.
Robert Wolter Monginsidi dilahirkan di desa Mamalayang Manado, pada tanggal 14 februari 1925. Beliau menamatkan pendidikan HIS lalu melanjutkan pendidikan di MULO frater namun hanya duduk di kelas dua. Selain itu, beliau juga mendapatkan pendidikan di Sekolah Bahasa Jepang. Pada tanggal 27 Oktober 1945, beliau memimpin serangan terhadap pos tentara Belanda di dalam kota. Untuk menyatukan tenaga perjuangan maka dibentuklah Laskar Pemberontakan Rakyat Sulawesi selatan (LAPRIS). Beliau menjabat sebagai sekretaris jendral. Beliau bertugas untuk merencanakan operasi operasi militer, dan beliau juga aktif dalam melakukan penyamaran sebagai Polisi Tentara Belanda sehingga dapat dengan mudah mengetahui rahasia musuh dan dapat menentukan sasaran serangan. Tanggal 18 Februari 1947, Belanda melancarkan aksi razia secara besar besaran dan berhasil menangkap Monginsidi dan memasukkan ke dalam penjara.Pada tanggal 17 Oktober, beliau berhasil lolos tetapi 9 hari kemudian, beliau kembali tertangkap. Belanda mengajaknya bekerja sama namun dengan tegas beliau menolaknya. Dalam pengadilan, beliau dijatuhi hukuman mati. Keputusan itu diterimanya dengan hati tegar namun masyarakat menolaknya dan mengajukan permohonan supaya hukuman itu dibatalkan namun penguasa Belanda menolaknya. Pada tanggal yang telah ditentukan yaitu tanggal 5 September tahun 1949, beliau menjalani hukuman mati di Pacinang di depan regu tembak. Beliau menolak kain merah yang digunakan untuk menutup matanya. Tangan kiri beliau menggenggam Injil dan tangan kanannya mengepal tinju sambil memekikkan merdeka. Di dalam kitab Injil ditemukan secarik kertas yang bertuliskan “Setia hingga terakhir dalam keyakinan”. Tanggal 10 November tahun 1950, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Ujungpandang. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No, 088/TK Tahun 1973, tanggal 6 November 1973, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan

MGR Albertus Sugiyopranoto


MGR Albertus Sugiyopranoto
Albertus Sugiyopranoto dilahirkan di Solo pada tanggal 25 November tahun 1890. Beliau menamatkan pendidikannya di Sekolah Guru pada tahun 1915. Tahun 1916, beliau mengikuti kegiatan imamat dan mulai mendalami ilmu agama Katholik,bahasa latin, Yunani dan filsafat di negeri Belanda. Di tahun 1928, beliau mengikuti pelajaran Teologi di Belanda.dengan nama Frater Sugiyo, beliau kembali ke Indonesia dan mengajar ilmu pasti, bahasa Jawa dan Agama di sekolah guru pada kolose di Muntilan dan memimpin mingguan Swara Tama berbahasa jawa.
Beliau pernah mewakili frater frater se-Indonesia menghadiri perayaan kepausan di Roma ,Italia dan bertemu dengan Paus Pius. Pada tahun 1931, beliau ditahbiskan sebagai iman. Tahun 1933, beliau kembali ke Indonesia dengan nama Sugiyopranoto dan diangkat menjadi Pastor Pembantu di Bintaran, kemudian beliau menjadi Pastor Paroki.
Tahun 1938 beliau menjadi penasehat Misi Jesus di pulau Jawa. Tahun 1940, beliau diangkat menjadi Vikaris Apostolik untuk memangku jabatan keuskupan. Putra Indonesia pertama yang diangkat menjadi Uskup Agung. Beliau juga menjadi iman Katholik pertama yang mengembangkan agama Katholik yang disesuaikan dengan adat ketimuran. Pada zaman Jepang, beliau berjuang menentang anggapan yang menyamakan gereja dengan kolonial belanda. Beliau wafat di negeri belanda pada tanggal 10 Juli 1963 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritungggal semarang. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.152 Tahun 1963, tanggal 26 Maret 1963, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

Monday, September 21, 2009

DR. Saharjo SH


DR. Saharjo SH
DR. Saharjo SH dilahirkan di Solo pada tanggal 26 JUni 1909. Beliau melanjutkan pendidikan di Stovia, namun tidak sampai tamat. Setelah itu beliau pindah ke AMS bagian B. Pada tahun 1941, beliau mendapatkan gelar Sarjana Hukum. Kegiatan beliau antara lain, beliau pernah bekerja sebagai guru di sebuah perguruan swasta nasional di Jakarta. Dalam bidang politik, beliau memulai kariernya dengan ikut bergabung di Partindo, sebagai Pengurus Besar. Setelah memperoleh gelar Sarjana Hukum, beliau memulai kegiatannya di bidang hukum. Setelah Indonesia merdeka, beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral departemen Kehakiman, Menteri Muda Kehakiman dalam kabinet kerja I dan Menteri Kehakiman dalam Kabinet Kerja II. Jabatan terakhir beliau yaitu sebagai Wakil Menteri Pertama Bidang dalam Negeri. Hasil hasil pemikiran beliau ialah Undang Undang Warga Negara Indonesia pada tahun 1947 dan tahun 1948, lalu Undang Undang Pemilihan Umum tahun 1953. Pada tahun 1962, beliau menghapuskan beberapa bagian undang undang hukum kolonial dan menyesuaikan hukum dengan kepribadian Indonesia. Beliau juga mengusulkan lambang keadilan yang berbentuk Dewi Justia diganti dengan pohon beringin di terima oleh Seminar Hukum Nasional pada tahun 1963 sebagai lambang kehakiman. Beliau juga mengganti istilah penjara menjadi Lembaga Permasyarakatan dan istilah orang hukuman menjadi narapidana. Karena jasa jasanya beliau mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia. Beliau wafat di Jakarta pada tanggal 13 November 1963, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No.245 Tahun 1963, tanggal 29 November 1963, beliau mendapat gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Dokter Muwardi.


Dokter Muwardi.
Dokter Muwardi dilahirkan di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1907. Beliau menamatkan pendidikan di STOVIA dan mengambil spesialis dalam teliga,hidung,tenggorokan.
Selain belajar di STOVIA, beliau juga ikut bergabung di Jong Java. Beliau juga menjadi anggota Indonesia Muda dan pernah menjadi pimpinan umum Pandu Kebangsaan yang diganti nama menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia atau yang disingkat KBI. Pada zaman penjajahan Jepang, beliau menjadi pemimpin Barisan Pelopor daerah Jakarta. Dan beberapa hari sebelum kemerdekaan Indonesia diprloklamasikan, beliau menjadi pemimpin Barisan Pelopor seluruh Jawa. Sesudah proklamasi diumumkan, beliau membentuk Barisan Pelopor Istimewa sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno. Pada tahun 1964 pusat Barisan Pelopor pindah ke Solo dan berganti nama menjadi Barisan Benteng. Ketika beliau masih di Jakarta, beliau ikut dalam pertempuran melawan Inggris di Klender.
Beliau tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter walaupun beliau aktif di berbagai organisasi. Lalu bersama dokter dokter lainnya beliau mendirikan sekolah kedokteran di Jebres Solo kemudian sekolah itu pindah ke Klaten. Untuk menghadapi pemberontakan PKI, beliau mendirikan Gerakan Rakyat Revolusioner. Pada tanggal 13 september tahun 1948, beliau pergi ke rumah sakit Jebres untuk melakukan tugas operassi seorang pasien namun beliau diculik dan dibunuh oleh gerombolan PKI. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I No.190 Tahun 1964, tanggal 4 Agustus 1964, beliau diberi gelar sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Saturday, September 19, 2009

R.M Suryo


R.M Suryo.
R.M Suryo dilahirkan di Magetan, Jawa timur pada tanggal 9 Juli 1898. Beliau menamatkan pendidikan HIS dan menamatkan Osvia di Magelang. Setelah itu beliau melanjutkan mengikuti pendidikan polisi di Sukabumi pada tahun 1922. setelah itu beliau juga belajar di Bestuurs School Jakarta. Pada tahun 1918, beliau bekerja sebagai pamong praja di Ngawi. Selanjutnya pada tahun 1920, beliau menjabat sebagai Mantri Veldpolitie di Madiun. Setelah menjalani masa kerja sebagai asisten wedana di beberapa tempat dan sesudah belajar di Bestuurs school Jakarta, beliau diangkat menjadi wedana dan berpindah pindah tempat. Tahun 1938 beliau menjadi Bupati di Magetan. Dalam zaman pendudukan Jepang, beliau bertugas sebagai Syucokan atau Residen di Bojonegoro. Setelah Indonesia merdeka, beliau menjabat sebagai gubernur Jawa Timur. Pada tanggal 9 November 1945, Inggris mengeluarkan ultimatum agar semua orang Indonesia yang bersenjata menyerahkan senjatanya selambat lambatnya pukul 06.00 tanggal 10 November 1945. Apabila mereka tidak mau menyerahkannya, Surabaya akan digempur dari darat laut dan udara. Pemerintah Pusat di Jakarta menyerahkan kepadanya tindakan apa yang akan diambilnya. Keputusan yang akan diambil setelah berunding dengan TKR, pada tanggal 9 November 1945, beliau berpidato di depan corong RRI yang ditutup dengan kata kata Selamat Berjuang,Keesokan harinya yaitu pada tanggal 10 November 1945, meletuslah pertempuran yang sangat hebat dan menelan banyak korban jiwa. Pertempuran itu dikenal dengan nama pertempuran Surabaya. Dan tanggal 10 November ditetapkan sebagai hari pahlawan.
Pada tahun 1947, beliau menjadi anggota dewan pertimbangan agung. Beliau wafat dibunuh oleh gerombolan PKI pada saat melakukan perjalanan dinas di desa Bago Kedunggalar Ngawi. Jenazahnya ditemukan 4 hari kemudian. Beliau dimakamkan di Magetan.

Pangeran Antasari


Pangeran Antasari
Pangeran Antasari dilahirkan di Banjarmasin pada tahun 1809. walaupun beliau keturunan bangsawan, namun beliau dibesarkan di tengah tengah rakyat biasa. Beliau dekat dengan rakyatnya dan mengerti betul penderitaan masyarakatnya. Beliau bersekutu dengan kepala kepala daerah dari Hulu Sungai Barito, Martapura,Pleihari, Kahayan dan lain lain. Mereka semua bertekad untuk mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari kerajaan Banjar. Sesudah itu berkobarlah pertempuran dengan nama Perang Banjar yang berlangsung selama 14 tahun. Pertempuran pertama pada tanggal 18 April tahun 1859 menyerang tambang batu bara di Pengaron. Banyak rekan rekan seperjuangan dari Pangeran Antasari yang menyerah kepada Belanda, namun beliau tetap melanjutkan perjuangannya. Baginya pantang menyerah kepada Belanda. Beliau tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda. pada bulan Oktober tahun 1862, beliau sudah mengumpulkan kekuatan untuk melancarkan serangan besar besaran terhadap Belanda. Tetapi pada waktu itu terjangkit wabah cacar. Pangeran Antasari terkena wabah tersebut yang akhirnya merengut nyawanya. Beliau wafat di Bayan Begak, Kalimantan Selatan pada tanggal 11 Oktober 1862. beliau dimakamkan di Banjarmasin. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I No 06/TK/Tahun 1968, tanggal 27 Maret 1968, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan.

Sultan Hasanuddin


Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin dilahirkan di Ujung Pandang pada tahun 1631. Pada tahun 1653, beliau dinobatkan menjadi Raja Gowa ke 16. Beliau sering diutus oleh ayahnya ke beberapa kerajaan di Indonesia. Antara lain di kerajaan Banten dan Mataram untuk mengadakan perjanjian kerja sama perdagangan dan pertahanan. Beliau berusaha menggabungkan beberapa kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk bersama sama menghadapi Belanda. Pada tahun 1660 meletuslah perang antara Gowa dan Belanda yang diakhiri dengan perdamaian. Perdamaian itu banyak yang merugikan Gowa. Tahun 1666 Hasanuddin kembali berperang dengan Belanda. Belanda dibantu oleh beberapa kerajaan yang sudah mereka pengaruhi serta mengerahkan angkatan perang yang besar. Pada tanggal 18 November 1667 diadakan Perjanjian Bongaya yang diakhiri dengan perdamaian. Hasanuddin tertekan oleh isi perjanjian tersebut. Pada bulan April 1668, Hasanuddin kembali melancarkan serangan terhadap belanda. Tetapi akhirnya beliau terpaksa mengakui keunggulan Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1668 pertahana terkuat dan terakhir kerajaan Gowa, yaitu Benteng Sombaopu dikuasai oleh Belanda. Pada tanggal 29 Juni 1668, Hasanuddin mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan tidak mau bekerja smaa dengan Belanda. Beliau wafat di Ujung Pandang pada tanggal 12 Juni 1670.


Thursday, September 17, 2009

Abdul Harris Nasution


Abdul Harris Nasution

Abdul Harris Nasution dilahirkan di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 . Beliau adalah seorang tokoh yang menjadi target utama dalam peristiwa pemberontakan gerakan 30 September pada tahun 1965, namun yang menjadi korbannya adalah putrinya yaitu Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Kapten Pierre Tendean. Sebagai seorang tokoh militer, Nasution sangat dikenal sebagai ahli perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.Tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia, beliau ikut mendaftar dan kemudian menjadi pembantu letnan di Surabaya. Pada 1942, beliau mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eks-PETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Pada Maret 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi III/Priangan. Mei 1946, beliau dilantik Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada Februari 1948, beliau menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jendral Soedirman). Sebulan kemudian jabatan "Wapangsar" dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, Nasution dianugerahi pangkat Jendral Besar bintang lima. Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto pada 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

BIODATA
Nama : Abdul Harris Nasution
Pangkat Terakhir : Jenderal Bintang Lima
Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Wafat : Jakarta, 6 September 2000
Agama : Islam
Istri : Ny. Johanna Sunarti
Pendidikan :
HIS, Yogyakarta (1932)
HIK, Yogyakarta (1935)
AMS Bagian B, Jakarta (1938)
Akademi Militer, Bandung (1942)
Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara, 1962)
Universitas Mindanao, Filipina (1971)
Karir :
Guru di Bengkulu (1938)
Guru di Palembang (1939-1940)
Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
Panglima Komando Jawa (1948-1949)
KSAD (1949-1952)
KSAD (1955-1962)
Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
Ketua MPRS (1966-1972)
Alamat Rumah : Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp : 021-349080

Prof. Dr.R.Supomo SH


Prof.Dr.R.Supomo.SH

Prof. Dr.R.Supomo SH dilahirkan di sukoharjo, Surakarta pada tanggal 22 Januari 1903. Beliau menamatkan pendidikan di MULO , setelah itu melanjutkan pendidikan di Sekolah Hukum dan lulus tahun 1923. Setelah itu, beliau memperdalam pengetahuan mengenai Ilmu Hukum di Universitas Leiden di Negeri Belanda. Beliau pernah bekerja di Pengadilan Negeri Surakarta dan Pengadilan Negeri Yogyakarta.
Beliau aktif di organisasi Jong Java. Pada tahun 1928 bersama dengan Ali Sastroamijoyo, beliau menulis brosur tentang Perempuan Indonesia dalam Hukum, sebagai sumbangan pikiran terhadap di selengarakannya Kongres perempuan Indonesia. Pada tahun 1933, belaiu menyelidiki masalah hukum adat Jawa Barat dan sebagai hasilnya terbitnya monografi mengenai hukum adat privat Jawa Barat. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Balai Pengetahuan Masyarakat, terus Ketua Landraad Purwerejo dan sebagai pegawai tinggi pada Departemen Van Justitie dan menjadi Guru Besar pada Sekolah Hakim Tinggi.
Pada zaman pendudukan Jepang, beliau memegang jabatan sebagai anggota panitia Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan kemudian menjadi anggota Panitia Persiapan kemerdekaan Indoneisa. Setelah merdeka, beliau menjabat sebagai Menteri Kehakiman dalam Kabinet Presidensiil. Jabatan lain yang tak kalah pentingnya adalah pernah menjadi Guru Besar di Universitas Gajah Mada dan pernah menjadi rektor di Universitas Indonesia dan pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di London. Beliau wafat di Jakarta pada tanggal 12 September pada tahun 1958. Beliau dimakamkan di Solo.

Monday, September 7, 2009

Laksamana Muda Anumerta Yosaphat Sudarso.


Laksamana Muda Anumerta Yosaphat Sudarso.

Beliau dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah pada tanggal 24 November 1925. Ketika menamatkan pendidikannya di Sekolah Guru di Muntilan, Pasukan Jepang mendarat sehingga beliau tidak sempat menyelesaikan pendidikannya. Setelah itu mengikuti Sekolah Tinggi Pelayaran Semarang. Selanjutnya mengikuti pendidikan opsir Giyu Usamu Butai. Beliau pernah menjadi anggota BKR yang kemudian menjadi ALRI. Beliau juga pernah turut dalam Operasi Lintas Laut di Kepulauan Maluku. Setelah pengakuan kedaulatan, beliau pernah diangkat menjadi komandan kapal perang RI Gajah Mada, RI Rajawali, RI Alu dan RI Pattimura. Tahun 1959 ketika terjadi pergolakan dalam tubuh ALRI, beliau turut menuntut supaya Kepala Staf ALRI diganti. Dan ternyata usaha mereka berhasil. Pemerintah mengangkat Kolonel R. E Martadinata. Dan Yos Sudarso pun diangkat menjadi Deputy Operasi. Pada bulan Desember tahun 1961, Pemerintah RI mengumumkan Trikora atau Tri Komando Rakyat dalam usaha membebaskan Irian Barat (Irian Jaya) dari penjajahan Belanda. Tanggal 13 January 1962 tengah malam, beliau berada di atas Kapal Macan Tutul. Bersama dua kapal lainnya beliau mengadakan patroli di Laut Aru. Patroli ini diketahui oleh Belanda yang segera mengerahkan destroyer. Karena lawan terlalu kuat, RI Macan Tutul dijadikan umpan untuk dihantam,musuh agar dua kapal lainnya selamat. Laksamana Yos Sudarso berada di atas kapal tersebut gugur dan ikut tenggelam.


Sunday, September 6, 2009

Nyai H. Siti Walidah Ahmad Dahlan


Nyai H. Siti Walidah Ahmad Dahlan
Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1872. Beliau tidak pernah mengikuti pendidikan di sekolah umum, beliau mendapatkan pendidikan agama sejak kecil setelah menikah dengan K.H. Ahmad Dahlan, beliau belajar pada suaminya. Beliau aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Beliau juga melakukan dakwah ke daerah daerah. Pada tahun 1918, Muhammadiyah mendirikan bagian wanita yang disebut Aisyiah. Beliau ditunjuk sebagai pemimpinnya lalu dijadikan penasehat dan pelindungnya. Beliau menjadi terkenal karena kepintarannya dalam ilmu agama tersebut. Pada awal revolusi, beliau giat membantu perjuangan walaupun usianya sudah uzur. Kamu wanita dianjurkan untuk mendirikan dapur umum untuk membantu tentara yang sedang berperang di garis depan. Pemuda pemuda diajarkan supaya tetap tabah dalam menghadapi situasi seperti ini. Beliau wafat di Yogyakarta pada tanggal 31 Mei 1946. Atas dasar Surat Keputusan Presiden RI no. 042/TK.Tahun 1971, tanggal 22 September 1971, beliau ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional

Friday, September 4, 2009

DI Panjaitan


DI Panjaitan.
DI Panjaitan bernama lengkap Donald Isaac Panjaitan. Beliau lahir di Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925. Beliau menamatkan Sekolah Dasar, kemudian masuk Sekolah Menengah Pertama, dan terakhir di Sekolah Menengah Atas. Ketika ia tamat Sekolah Menengah Atas, Indonesia sedang dalam pendudukan Jepang. Sehingga ketika masuk menjadi anggota militer ia harus mengikuti latihan Gyugun. Selesai latihan, ia ditugaskan sebagai anggota Gyugun di Pekanbaru, Riau hingga Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Di TKR, beliau mengawali kariernya sebagai komandan batalyon, selanjutnya ia sering berpidah tugas. Setelah Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan, ia diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara & Teritorial (T&T) I/Bukit Barisan di Medan. Ia juga pernah bertugas sebagai Atase Militer di Bonn, Jerman.
Seiring dengan berakhirnya Agresi Militer Belanda ke II, Indonesia pun memperoleh pengakuan kedaulatan. Panjaitan sendiri kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindahkan lagi ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya.
Setelah mengikuti kursus Militer Atase (Milat) tahun 1956, ia ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat. Ketika masa tugasnya telah berakhir sebagai Atase Militer, ia pun pulang ke Indonesia. Tahun 1962, perwira yang pernah menimba ilmu pada Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat ini, ditunjuk menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Jabatan inilah terakhir yang diembannya saat peristiwa G 30/S PKI terjadi.
Ketika menjabat Asisten IV Men/Pangad, ia mencatat prestasi tersendiri atas keberhasilannya membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI. Dari situ diketahui bahwa senjata-senjata tersebut dimasukkan ke dalam peti-peti bahan bangunan yang akan dipakai dalam pembangunan gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces). Senjata-senjata itu diperlukan PKI yang sedang giatnya mengadakan persiapan melancarkan pemberontakan. Karenanya, dia juga salah satu perwira di jajaran TNI AD yang tidak menyukai PKI sekaligus yang menolak pembentukan Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani sesuai rencana PKI. Dan karena itulah dirinya dimusuhi dan dibunuh oleh PKI.
Pada malam 30 September atau pagi dinihari tanggal 1 Oktober 1965 beliau diculik oleh sekelompok berpakaian Pengawal Presiden yang kemudian diketahui adalah pasukan PKI. Namun karena loyalitasnya pada pimpinan tertinggi militer, Presiden Soekarno, ia pun berangkat namun terlebih dahulu berpakaian resmi. Sebelum memasuki mobilnya, dengan berdiri di samping mobil ia lebih dulu memohon doa kepada Tuhan. Namun belum selesai menutup doanya, pasukan PKI sudah memberondongnya dengan peluru. Beliau gugur sebagai Pahlawan Revolusi, kemudian dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, pangkatnya yang sebelumnya masih Brigadir Jenderal kemudian dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor Jenderal.

Nama:Mayor Jenderal Anumerta Donald Isac Panjaitan
Lahir:Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925

Meninggal:Jakarta, 1 Oktober 1965

Dimakamkan:Taman Makam Pahlawan Kalibata

Agama:Kristen

Pendidikan Formal:

- Sekolah Dasar

- Sekolah Menengah Pertama

- Sekolah Menengah Atas
Pendidkan Militer:Latihan Gyugun
Pendidikan Lain:

- Kursus Militer Atase (Milat), tahun 1956

- Associated Command and General Staff College, di Amerika Serikat

Karier Militer:

- Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), tahun 1962

- Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat

- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) II/Sriwijaya di Palembang

- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan

- Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).

- Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera

- Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi, tahun 1948

- Komandan Batalyon Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

- Anggota Gyugun Pekanbaru, Riau

Prestasi:

- Salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

- Membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI

Tanda Kehormatan:Pahlawan Revolusi

Thursday, September 3, 2009

Siti Hartinah Soeharto


SITI HARTINAH SOEHARTO

Siti Hartinah (Ibu Tien Soharto) lahir di Desa Jaten pada tanggal 23 Agustus 1923 dari pasangan RM Soemoharjomo dan R. Aj. Hatmanti. Ia merupakan anak kedua dari 10 bersaudara. Kakaknya adalah R. Aj. Siti Hartini, sedangkan adiknya adalah RM Ibnu Hartomo, RM Ibnu Harjatno, R. Aj. Siti Hartanti, RM Ibnu Harjoto, RM Ibnu Widojo, R. Aj. Siti Hardjanti, RM Bernadi Ibnu Hardjojo, dan RM Sabarno Ibnu Harjanto.Masa kecilnya diwarnai dengan berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya yang ditugaskan ke berbagai daerah.
Perpindahan pertama yang dialami Siti Hartinah terjadi ketika masih berusia 3 tahun yaitu pada tahun 1925. Ayahnya, RM. Ng. Soemoharjomo menempati jabatan baru sebagai Panewu Pangreh Praja (setingkat Camat) ditugaskan ke Jumapolo, sebuah kota Kecamatan di Karanganyar sekitar 26 Km dari Kota Solo.
Pada usia lima tahun, Siti Hartinah kembali harus berpindah tempat tinggal mengikuti orangtuanya. Kali ini pindah ke Matesih, Kabupaten Karanganyar di kaki Gunung Lawu. Di Matesih terdapat satu sekolah dasar yang disebut sekolah Ongko Loro. Sekolah ini hanya menyelenggarakan pendidikan formal selama dua tahun. Siti Hartinah masuk ke sekolah ini. Suatu ketika seorang sahabat ayahnya, Abdul Rachman, datang dari Solo. Abdul Rachman bermaksud mengangkat salah seorang anak Panewu Soemoharjomo. Pilihannya jatuh pada Siti Hartinah. Meskipun berat hati, akhirnya permohonan Abdul Rachman dikabulkan. Siti Hartinah pun ikut keluarga baru di Solo. Di sana ia sekolah di salah satu sekolah elit, HIS (Holland Indlanche School). Untuk pertama kalinya, ia berhubungan dengan sistem pendidikan Belanda.Sayangnya, baru setahun bersama dengan keluarga Abdul Rachman,Siti Hartinah terpaksa harus kembali ke keluarganya dan meninggalkan HIS karena terserang penyakit cacar. Ia pun kembali ke desa. Ia tidak kembali ke Matesih, melainkan ke Kerjo, karena orangtuanya sudah kembali dipindahkan. Di tempat baru, setelah sembuh, ia kembali masuk sekolah. Tentu saja tidak di HIS, melainkan di sekolah Ongko Loro yang ada di desa itu.Pada tahun 1933, Wedana Soemoharjomo memboyong keluarganya ke Wonogiri, termasuk Siti Hartinah. Di Wonogiri, ia kembali masuk HIS, duduk di bangku kelas III. Masa Remaja
Siti Hartinah menghabiskan masa remajanya di kota Wonogiri. beliau menyelesaikan sekolahnya di HIS. Selama bersekolah ia selalu memakai kebaya, bukan memakai rok. Hanya pada kegiatan kepanduan JPO (Javaanche Padvinder Organisatie) ia diizinkan orangtuanya memakai rok, pakaian seragam JPO. Karena rajin mengikuti latihan-latihan di JPO, akhirnya dalam dirinya tumbuh tunas-tunas idealisme yang terus berkembang.
Namun, beliau tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya menjadi Wedana Wonogiri hanya dalam waktu lima tahun. Kemudian ia dipindahkan menjadi Wedana di Wuryantoro. Dua tahun kemudian ia pun dipensiunkan.Keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan cita-cita menjadi seorang dokter memang tidak tercapai. Tetapi, dengan mengalihkan kegiatan-kegiatan lainnya seperti membatik, belajar menari dan menyanyi tembang Jawa, menulis syair, ternyata memenuhi dorongan dan tuntutan jiwa remajanya.

Masa Pendudukan Jepang Sebelum Jepang memasuki kota Solo pada tahun 1942, Siti Hartinah kembali memasuki gerakan kepanduan di Pandu rakyat Indonesia. Setelah Jepang memasuki kota Solo, terjadi perkembangan yang sangat cepat di segala bidang kemasyarakatan dan pemerintahan. Tentara pendudukan Jepang mengadakan pendidikan dan kursus-kursus, termasuk kursus bahasa Jepang. Selain dibentuk pula organisasi-organisasi kemasyarakatan, termasuk organisasi wanita Fujinkai. Siti Hartinah setelah mendapat izin orangtuanya segera mendaftar di organisasi tersebut. Dalam organisasi itu dilatih baris-berbaris, latihan kepemimpinan, bagaimana melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh pergerakan, dan lain-lain. Dari sini, benih-benih semangat nasionalisme muncul di kalangan remaja putri Solo yang terkenal lemah lembut. Mereka sesungguhnya memiliki semangat tinggi untuk turut aktif dalam gerakan mewujudkan kemerdekaan.
Siti Hartinah juga mengikuti kursus bahasa Jepang pada orang Jepang yang sudah lama menetap di Solo sebagai pengusaha pada zaman kolonial Belanda, bukan pada tentara pendudukan Jepang. Dalam waktu singkat ia sudah mahir berbahasa Jepang.
Laskar Putri Indonesia Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, rakyat Solo segera melakukan mobilisasi untuk mendukung kemerdekaan. Putri-putri Solo yang gemulai itu pada tanggal 11 Oktober 1945 membentuk organisasi bersenjata yang mereka namakan Laskar Puteri Indonesia.
Dalam waktu singkat, jumlah anggota Laskar Puteri Indonesia meningkat cepat. Mereka dilatih oleh perwira dari Batalyon yang dipimpin Mayor Soeharto. Persenjataan pun diperoleh dari batalyon yang sama. Dengan memiliki 120 pucuk senjata, laskar itu pun telah menjelma menjadi pasukan tempur wanita.

LPI bertujuan untuk membentuk pasukan bantuan untuk melayani kepentingan pasukan garis depan dan garis belakang demi suksesnya perjuangan. Komandan LPI diserahkan kepada nona Soedijem, sedangkan wakilnya adalah nona Sajem. Siti Hartina duduk di staf yang mengendalikan urusan perlengkapan atau logistik. LPI menyelenggarakan dapur-dapur umum di medan pertempuran dan membatu markas-markas pertempuran, membantu tugas-tugas kesehatan PMI, mencari peralatan, makanan untuk Kesatuan yang membutuhkan, menyelenggarakan latihan-latihan kemiliteran dan lain-lain.
Meskipun LPI memiliki andil besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, namun keberadaannya tidak dapat bertahan lama. Organisasi itu terbentur pada peraturan pemerintah yang mengambil kebijakan rasionalisasi kelaskaran bersenjata. Atas dasar kebijakan tersebut, maka di penghujung tahun 1946, LPI dibubarkan.Siti Hartinah yang masing memiliki semangat perjuangan yang kuat bergabung dengan Laskar Rakyat Indonesia dan duduk di seksi keuangan. Siti Hartinah bertugas mengelola administrasi keuangan, baik yang masuk maupun yang keluar.Di samping mengerjakan pekerjaan tersebut, perhatian Siti Hartinah terhadap keluarga korban perang sangat luar biasa. Ia akan mendatangi keluarga yang ditinggal oleh suami atau ayah mereka yang gugur di medan pertempuran.

Bertemu Kekasih Usia Siti Hartinah terus bertambah, namun ia tidak juga menunjukkan tanda-tanda tertarik pada lawan jenis. Orang tua dan semua keluarganya khawatir dara berlesung pipit ini tidak kunjung mendapat jodoh. Padahal, Siti Hartinah sendiri sering berdoa agar dirinya diberi jodoh yang benar-benar cocok dan tidak hanya sekadar sebagai suami tetapi juga sebagai kawan seperjuangan sepanjang jalan kehidupan nantinya. Hingga pada suatu hari datanglah utusan keluarga Prawirowihardjo yang merupakan orang tua angkat Soeharto bermaksud melamar Siti Hartinah. Sebelum lamaran dilakukan, ada kegamangan di hati pemuda Soeharto kalau lamaran itu bakal ditolak. Alasannya, dia berasal dari kalangan biasa, sedangkan Siti Hartinah merupakan keluarga bangsawan.Barangkali inilah yang namanya jodoh. Ketika yang melamar adalah seorang perwira muda bernama Soeharto, dia sama sekali tidak menunjukkan keberatannya.Perkawinan kedua insan yang tidak melakukan masa pacaran sebelumnya terjadi pada tanggal 26 Desember 1947. Upacara pernikahan dilangsungkan secara amat sederhana. Dalam kondisi yang darurat seperti itu, sangat wajar jika tidak ada dokumentasi dalam bentuk foto perkawinan dua insan itu. Pada waktu menikah, usia Soeharto adalah 26 tahun sedangkan Siti Hartinah 24 tahun.

Sebagai Istri Prajurit tiga hari setelah perkawinan, Siti Hartinah diboyong suaminya ke Yogyakarta. Di kota ini Soeharto yang seorang perwira militer bertugas mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman Belanda. Kini Siti Hartinah telah mendapat tugas baru yaitu sebagai istri komandan resimen.Di Yogyakarta, Letnan Kolonel Soeharto telah menyiapkan sebuah rumah beserta isinya yang sederhana untuk tempat tinggal mereka. Rumah itu terletak di Jalan Merbabu No. 2. Setelah tiga bulan berpisah, barulah Siti Hartinah kembali berkumpul dengan suaminya. Kepergian itu bukan sekali itu saja terjadi. Setelah tinggal selama 9 bulan, Ny. Soeharto mulai memperlihatkan tanda-tanda kehamilan. Itu berarti beberapa bulan lagi ia akan memiliki anak. Sayangnya, pada saat itu suaminya justru harus sering meninggalkannya. Aksi militer Belanda yang semakin hebat membuat tugas suaminya menjadi lebih berat. Dalam kondisi demikian, Soeharto lebih memilih mendahulukan tugasnya sebagai anggota militer yang harus maju ke medan pertempuran dan meninggalkan istrinya di rumah. Namun keberadaan kakaknya, Ny Oudang (Siti Hartini), adiknya Hardjanti, Ibu Dwijo dan keluarga Amir Moertono di rumah sungguh sangat membantu. Ia tidak kesepian dan jika ada kesulitan tidak jauh dari orang-orang yang bisa dimintai bantuan.
Pada tanggal 23 Januari 1949 di rumah pengungsiannya, Ny Soeharto mengalami kejadian baru yang belum pernah dialaminya. Ia melahirkan anak pertamanya. Ia melahirkan dibantu seorang bidan yang bersedia datang dan menginap di rumah itu. Sementara suaminya sedang berada di medan tempur yang tidak diketahui keberadaannya.Berita kelahiran bayi mungil itu akhirnya sampai ke telinga Soeharto. Ia tentu sangat gembira mendengar berita itu. Sang bayi itu kemudian diberi nama Siti Hardijanti Hastuti (Tutut).
Setelah berlangsungnya serangan dan Belanda akan menarik mundur pasukan dari Yogyakarta, Soeharto secara diam-diam mendatangi Sri Sultan di keraton. Setelah bertemu, malamnya ia menginap di dapur keraton. Pada saat itu, Soeharto mengirimkan utusan agar istrinya datang ke keraton. Dengan diantar Letnan Amir Moertono, Ny.Soeharto dengan membawa bayi kecil. Mereka pun kemudian bertemu. Itu adalah pertemuan pertama setelah berpisah selama 4 bulan. Soeharto tidak habis-habis mencium bayinya.
Setelah keadaan benar-benar aman dan pemerintah RI kembali ke Yogya, keluarga Soeharto pun kembali berkumpul. Posisi Soeharto pun sudah berubah. Ia kini menjadi Komandan Brigade III Divisi Diponegoro. Hengkangnya Belanda dari bumi pertiwi tidak berarti masalah selesai. Pemberontakan dari dalam pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah pemberontakan Andi Aziz di Makassar. Letkol Soeharto ditugaskan sebagai komandan pasukan Garuda Mataram untuk menumpas pemberontakan. Tanggal 21 April 1950 Brigade Garuda Mataram meninggalkan Semarang. Siti Hartinah kembali harus berpisah dengan suaminya. Setelah suaminya pergi menunaikan tugas, Ny.Soeharto tidak tinggal diam. Dia mengunjungi istri-istri prajurit anak buah suaminya. Sulitnya komunikasi membuat perasaan khawatir itu semakin menjadi karena tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi di Makassar.Setelah beberapa bulan berpisah, Siti Hartinah memutuskan untuk mengunjungi suaminya di Makassar. Sebelum berangkat, sekali lagi, Ny. Soeharto mengunjungi istri prajurit dan bertanya apakah ada yang ingin menitipkan surat untuk suaminya. Ternyata sangat banyak surat titipan. Ia dengan senang hati membawa surat-surat tersebut. Surat itu tentunya akan menambah semangat suami mereka yang ada di garis depan. Siti Hartinah hanya satu minggu berada di Makassar. Dalam keberangkatannya itu ia membawa anak sulungnya Tutut yang baru berusia 14 bulan. Selama perjalanan Tutut tidak rewel sama sekali. September 1950 seluruh prajurit Brigade Mataram kembali ke Yogyakarta, kecuali 17 orang prajurit yang gugur. Pasukan KNIL/KL telah menyerah dan meninggalkan Makassar.Pada tanggal 1 Mei 1951, keluarga Soeharto bertambah semarak setelah kehadiran anak kedua yang diberi nama Sigit Haryoyudanto.
Beberapa bulan setelah Sigit lahir, Soeharto diberi tugas untuk memimpin Brigade Pragola I di Salatiga. Mereka sekeluarga pun akhirnya meninggalkan Yogya menuju Salatiga. Pada tanggal 1 Maret 1953, keluarga itu harus pindah rumah lagi. Kali ini menuju kota Solo. Di kota ini Letnan Kolonel Soeharto menjabat sebagai Komandan Resimen 15 (eks Brigade Panembahan Senopati). Di kota inilah lahir putra ketiga mereka yang diberi nama Bambang Tri Hatmojo pada tanggal 23 Juli 1953. Anak keempat, Siti Hediati Haryadi (Titik) lahir pada tanggal 14 April 1959 di Semarang. Pada saat itu Soeharto menjabat sebagai Panglima TT-IV/Diponegoro.

Kelahiran anak kelima yang diberi nama Hutomo Mandala Putra (Tomy) pada tanggal 12 Agustus 1962 cukup istimewa. Pada saat itu Ny. Soeharto tidak dapat ditunggui suaminya yang tengah mengemban tugas besar untuk membebaskan Irian Barat dengan nama Operasi Jayawijaya. Soeharto diberi kepercayaan sebagai Komando Mandala. Putri bungsu, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamik) lahir melalui operasi di Jakarta pada tanggal 23 Agustus 1964. Pada saat itu Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Ny. Soeharto mengakui, hidup dengan mengandalkan gaji suaminya cukup berat. Meskipun demikian, ia tidak mengeluh dan tidak meminta lebih secara materi. Apa yang diberikan suami, itulah yang digunakan untuk mengurus rumah tangga meskipun tidak cukup. Untuk mengatasinya, ia sering membuat kain batik. Kain itu dijual ke kerabatnya. Hasilnya digunakan untuk menutupi kekurangan penghasilan suami.

Kudeta PKI Pada waktu Mayor Jenderal Soeharto diangkat menjadi Panglima Kostrad, PKI sudah berada di atas angin. Dengan bersandar pada wibawa dan kharisma Bung Karno, PKI bertambah garang dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. PKI sangat mendukung langkah Bung Karno untuk melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Dukungan itu tidak sekadar ucapan, melainkan juga pengerahan massa dari unsur Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan Pemuda Rakyat. Mereka dilatih sebagai pasukan cadangan tempur di dekat lapangan udara Halim Perdanakusumah. Namun, latihan itu pada dasarnya adalah persiapan PKI untuk melancarkan Gerakan 30 September.Beberapa hari sebelum meletus Gerakan 30 September, pimpinan dan pengurus Persit Kartika Chandra diundang untuk mendengarkan penjelasan Menteri/Panglima AD Jend A Yani. Saat itu Ny.Soeharto adalah Ketua Persit. Jenderal Yani menjelaskan gawatnya situasi politik saat itu dan bagaimana peran TNI-AD.
Sepulang dari acara itu, Ny.Soeharto membuat sup kaldu tulang sapi kesukaan anak-anaknya. Pada waktu membawa sup ke meja makan, Tomy berlari-lari dan menabraknya. Ia pun tersiram kuah sup panas yang melepuhkan kulitnya. Tomy segera dibawa ke RS Gatot Subroto untuk dirawat. Pada tanggal 30 September, Mayjen Soeharto dan istrinya menjenguk Tomy di rumah sakit. Menjelang pukul 12 malam, Ny. Soeharto menyuruh suaminya pulang karena di rumahnya hanya tinggal putri bungsu mereka, Mamik yang baru berusia satu tahun. Soeharto pun pulang.
Pada tanggal 1 Oktober, pagi-pagi sekali, datang seorang tamu, Hamid nama tamu itu, memberitahukan kepada Mayjen Soeharto mengenai tembak-menembak di beberapa tempat. Hal itu membuatnya bertanya-tanya, apa yang telah terjadi? Broto Kusmardjo kemudian datang melaporkan bahwa beberapa Perwira Tinggi TNI-AD telah diculik. Tidak dijelaskan siapa pelakunya.Lonceng jam enam belum berbunyi ketika Letkol Soejiman diutus Mayjen Umar Wirahadikusumah yang menjabat Pangdam V Jaya melaporkan bahwa di sekitar Monas dan Istana Presiden terdapat konsentrasi pasukan yang tidak dikenal. Ia langsung berkata, “Segera kembali dan laporkan kepada Pak Umar saya akan cepat datang ke Kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan Komando Angkatan Darat.”Pada pukul 7.00 WIB lebih sedikit, siaran warta berita RRI memberitakan telah terjadi gerakan militer di tubuh Angkatan Darat. Gerakan yang menamai Gerakan 30 September itu dikepalai Letkol Untung. Untung adalah bekas anak buah Soeharto ketika dia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo. Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 444 dan pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI Alimin. Mendengar berita itu, Soeharto segera mengambil kesimpulan bahwa gerakan yang dipimpin Untung itu adalah kup yang ingin menguasai negara secara paksa. Ia memutuskan untuk melawan gerakan tersebut. Tahap pertama adalah mengamankan pasukan yang berjaga-jaga di Monas. Tahap berikutnya adalah memerintahkan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk merebut kembali RRI dan pusat telekomunikasi yang telah dikuasai para pemberontak. Tugas selanjutnya adalah menyerbu pusat gerakan kontrarevolusi di dekat Halim Perdanakusuma.
Pada saat Soeharto mengambil kebijakan strategis untuk menyelamatkan bangsa, Ny. Soeharto tengah menunggui putranya di RSPAD. Akhirnya, ia pun pulang membawa Tomy. Suaminya masih ada di Markas Kostrad dan meninggalkan pesan agar membawa anak-anaknya mengungsi ke tempat tinggal ajudan Pak Harto di Kebayoran Baru sambil terus mengikuti perkembangan melalui radio.

Sedikit demi sedikit situasi dapat diatasi. RRI dan pusat telekomunikasi dapat direbut kembali. Segera disiarkan pengumuman telah terjadi upaya penculikan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat pada tanggal 1 Oktober 1965. Mereka yang diculik adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Soeprapto, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal Haryono M.T., Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo.Sejak 1 Oktober 1965 hingga 11 Maret 1966 dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang luar biasa. Penculikan, penemuan korban yang sudah tewas, munculnya gelombang aksi demonstrasi yang menghendaki pembubaran PKI yang dikenal dengan nama Tritura, hingga pemberian Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).Pada tanggal 11 Maret diadakan rapat kabinet di Istana. Pada saat itu, Soeharto tidak dapat hadir karena sedang sakit flu, batuk-batuk, dan demam. Namun, rapat tidak dapat berlangsung dengan baik, karena Presiden Soekarno dengan tergesa-gesa meninggalkan rapat setelah mendapat laporan adanya pasukan tak dikenal di luar istana. Dengan kondisi yang demikian, Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M Yusuf, dan Brigjen Amirmachmud segera menemui Soeharto dan melaporkan apa yang terjadi di sidang kabinet.Ketiga jenderal itu kemudian berinisiatif menyusul Presiden Soekarno ke Istana Bogor dengan maksud agar Bung Karno menjadi tenteram dan tidak merasa dikucilkan TNI-AD. Sebelum pergi, Soeharto berkata, “Sampaikan salam dan hormat saya kepada Bung Karno. Laporkan, saya dalam keadaan sakit. Kalau diberi kepercayaan, keadaan sekarang ini akan saya atasi.”Tiga jenderal itu berhasil meyakinkan Bung Karno bahwa Pak Harto adalah orang yang tepat untuk mengatasi keadaan dan memulihkan keamanan. Ketiganya kembali ke Jakarta dengan membawa dokumen yang amat penting, Supersemar. Mereka langsung menuju rumah Panglima Kostrad meskipun hari telah larut malam. Setelah membaca surat perintah itu, Mayjen Soeharto langsung berganti pakaian loreng lengkap dan segera pergi ke Markas Kostrad. . Keesokan harinya pada pukul 6.00 WIB RRI menyiarkan berita pembubaran PKI. Pembubaran PKI ini disambut oleh seluruh rakyat Indonesia dengan hati lega. Seminggu kemudian 15 menteri Kabinet Dwikora yang diduga berhubungan dengan PKI dicopot. Era baru kehidupan berbangsa pun dimulai.
Pada tahun 1967, Sidang Istimewa MPRS secara aklamasi mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Ini berarti, Ny. Soeharto yang tadinya adalah istri prajurit kini menjadi istri presiden. Ny. Soeharto yang telah terbiasa dengan kehidupan di lingkungan angkatan bersenjata merasa istilah “pejabat” mengandung arti kesementaraan. Namanya “pejabat” artinya belum definitif. Jika MPRS menganggap tugasnya sudah rampung, maka MPRS sangat mungkin mengangkat orang lain menjadi presiden tanpa embel-embel “pejabat”.
Pada saat diangkat menjadi pejabat presiden, Jenderal Soeharto sempat menolak dengan alasan tidak yakin mampu mengemban tugas berat. Ia juga beralasan tidak mempersiapkan diri untuk memangku jabatan presiden. Setelah banyaknya desakan, ia akhirnya bersedia meski dengan syarat dicoba dulu untuk satu tahun.Pada bulan Maret 1968, MPRS menggelar Sidang Umum ke-V. Kembali pimpinan partai politik dan pejabat TNI Angkatan Darat mendesak agar Pak Harto menerima jabatan presiden dengan alasan tidak ada tokoh nasional yang lain Soeharto yang selama puluhan tahun berperang demi rakyat tergelitik hati nuraninya. Kalau menolak itu berarti takut. Sedangkan menolak untuk membela kepentingan rakyat? Mustahil dilakukannya. Akhirnya ia pun bersedia. Pada tanggal 27 Maret 1968 MPRS mengangkat Pejabat Presiden Soeharto menjadi Presiden RI ke-II. Ny. Siti Hartinah Soeharto yang tadinya tidak merasa menjadi istri presiden akhirnya benar-benar menjadi ibu negara.Pada masa awal kegiatannya sebagai ibu negara, aktivitas sosialnya menjadi fokus perhatiannya. Di luar Jakarta masih ada istana kepresidenan lainnya yaitu Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta (Gedung Agung), dan Istana Tampak Siring di Bali.Meskipun menata kembali istana kepresidenan, namun keluarga presiden lebih memilih tinggal di rumah sendiri (Jln. Cendana). Alasannya, tinggal di rumah sendiri lebih bebas, tidak jauh dari masyarakat, lebih sering bertemu masyarakat. Perubahan dalam protokol istana dapat terlihat setelah Ibu Tien memberi perhatian untuk membenahinya. Selanjutnya, interior istana dipercantik dengan pewarnaan yang menarik. Ruangan resepsi diberi karpet taiping. Warna merah untuk Istana Merdeka dan warna hijau untuk Istana Negara.Taman Mini Indonesia IndahKetika mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat dan menyaksikan taman budaya Timland di Thailand, memberi inspirasi bagi Ibu Tien untuk membangun sebuah taman yang menyajikan keindahan budaya dan lingkungan alam Indonesia. Ibu Tien amat menyadari bahwa kekayaan alam dan budaya Indonesia tidak kalah dengan kekayaan alam dan budaya negara lain. Membangun sebuah miniatur Indonesia menurutnya adalah suatu keniscayaan.Pada bulan Maret 1971, dalam rapat pleno Yayasan Harapan Kita, gagasan ini diutarakan. Setelah memahami maksud dan tujuan dari gagasannya itu, tidak satu pun peserta pertemuan yang tidak setuju. Semuanya mendukung gagasan Ibu Tien. Meskipun demikian, dukungan dari masyarakat luas tidak didapat dengan mudah. Aksi-aksi protes menentang pelaksanaan proyek pembangunan taman mini terus terjadi. Lambat laun aksi demo semakin membesar. DPR yang terbentuk dari hasil Pemilu 1971 dan belum memiliki tata tertib maupun komisi-komisi, segera membentuk panitia khusus untuk secara lugas mendudukkan persoalan pada relnya, agar gagasan Ibu Tien itu lebih jelas, transparan, dan dipahami.Pada tanggal 27 Juni 1972 dimulailah pembangunan proyek MII di lokasi yang sekarang ini berada (Cibubur). Luas tanah untuk proyek ini adalah 100 ha. Pembangunan memakan waktu tiga tahun. Waktu ini adalah reltif cepat. Yang pertama dibangun adalah peta maharaksasa Indonesia (arcipel Indonesia) yang merupakan miniatur Indonesia dibangun di atas tanah seluas 8,5 ha. Arcipel itu menggambarkan kepulauan nusantara di atas hamparan lautan (danau-danau buatan) yang sekaligus berfungsi sebagai tempat rekreasi olah raga air. Di seputar arcipel itu berdiri rumah adat dari 26 propinsi.Selain itu ada juga bangunan joglo yang terdiri dari Pendopo Agung Sasono Utomo dan Sasono Langen Budoyo yang merupakan centrum seluruh rumah adat yang berdiri di atas garis lurus menghadap ke barat segaris dengan Tugu Api Pancasila dan gerbang TMII. Di sana juga ada Gedung Pusat Percontohan Niaga, Museum Indonesia, rumah-rumah ibadah agama-agama resmi di Indonesia, gedung pusat pengelolaan, taman buah, taman bunga, taman burung, air terjun buatan, fasilitas restoran dan warung-warung, tempat pameran, teater, dan sebagainya.Proyek Miniatur Indonesia Indah berakhir ketika hasilnya berupa sebuah Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada tanggal 20 April 1975 Presiden Soeharto dalam pidato peresmiannya mengatakan berdirinya taman itu berkat hasil gotong-royong seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun 1984, di taman itu telah berdiri sebuah teater film termegah yang lain dari yang lain. Teater Film Keong Emas. Arsitekturnya menyerupai keong raksasa berwarna kuning keemasan. Interiornya nyaman dan membuat siapa saja merasa nikmat saat menonton film mengenai Indonesia yang Indah.Jumlah pengunjung TMII terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 1988 jumlah pengunjung mencapai 37 juta orang. Enam tahun kemudian telah membengkak menjadi 74 juta orang. Jumlah pengunjung pelajar dan mahasiswa terus meningkat setiap tahunnya. Sedangkan fasilitas TMII pun terus mengalami penambahan dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan zaman. Ibu Tien telah mencurahkan eprhatiannya untuk bangsa ini. Ide idenya mencetuskan beberapa gagasan yang melahirkan beberapa proyek monumental, di antaranya Taman Mini Indonesia Indah. Beliau meninggal, Minggu 28 April 1996, menginggalkan karya gemilang bagi bangsanya. Setelah meninggal, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Nama:Siti Hartinah Soeharto

Nama Panggilan:Ibu Tien Soeharto

Lahir:Desa Jaten, Surakarta 23 Agustus 1923

Meninggal:Jakarta, Minggu 28 April 1996

Dimakamkan:Astana Giribangun,Surakarta

Suami:Soeharto (menikah 26 Desember 1947)

Anak:Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)Sigit HarjojudantoBambang TrihatmodjoSiti HediatiHutomo Mandala Putra (Tommy)Siti Hutami Endang Adiningsih

Ayah:RM Soemoharjomo

Ibu:R. Aj. Hatmanti

Pendidikan:Sekolah dasar yang disebut sekolah Ongko Loro fi Matesih dan HIS (Holland Indlanche School) di Solo dan Wonogiri

Sunday, August 30, 2009

Raden Ajeng Kartini


Raden Ajeng Kartini.
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Kartini hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah. Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. Sejak saat itu, dia pun bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun orangtuanya memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.
Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda,. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.
Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Nama:Raden Ajeng Kartini

Lahir:Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879

Meninggal:Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)Pendidikan:E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar

Suami:Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang

Prestasi:

- Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara

- Mendirikan sekolah untuk wanita di RembangKumpulan surat-surat:Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).

Penghormatan:

- Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional

- Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari Kartini.



Saturday, August 29, 2009

Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean


Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean
Pierre Andreas tendean dilahirkan di Jakarta pada 21 Februari 1939. Beliau menamatkan pendidikan SMA bagian B di Semarang pada tahun 1958. setelah itu pada tahun 1962 menyelesaikan pendidikan Akademi Militer Jurusan Teknik. Setahun kemudian mengikuti pendidikan di sekolah intelijen. Waktu pendidikan Militer, beliau menjadi kopral taruna yang melakukan praktek lapangan di Sumatra dalam kesatuan Zeni Tempur Operasi Saptamarga di daerah Sumatra Timur yang sedang terjadi pemberontakan PRRI/Permesta. Setelah itu beliau menjabat sebagai Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Komando daerah Militer Ii Bukit Barisan di Medan. Pada bulan April 1965, beliau diangkat menjadi ajudan Menko Hankam/KSAD Jenderal Nasution pada era Soekarno. Pada peristiwa pemberontakan G30s/PKI, Abdul Harris Nasution lolos dari peristiwa penculikan tetapi anaknya, Ade Irma Suryani Nasution tewas tertembus peluru. Pierre Tendean sendiri ditangkap oleh segerombolan penculik dan dibunuh di Lubang Buaya. Ia diculik karena dikira adalah Jenderal A.H.Nasution. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Saturday, August 22, 2009

Ismail Marzuki.


Ismail Marzuki.

Islami Marzuki dilahirkan di Kwitang, Jakarta Pusat pada tanggal 11 Mei tahun 1964. karya karya beliau yang abadi sepanjang masa diantaranya adalah Juwita Malam, Sepasang Mata Bola, Selendang Sutera, Sabda Alam, Gugur Bunga, Halo Halo Bandung dan Indonesia Pusaka.
Pada tahun 1931, Ismail Marzuki mulai menciptakan lagu. Lagu itu berjudul "O Sarinah'' yang menggambarkan suatu kondisi kehidupan bangsa yang tertindas.
Sebagai komponis, dia dikenal produktif dan pandai melahirkan karya-karya yang mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat.
Komponis pelopor yang wafat 25 Mei 1958, ini telah melahirkan lagu-lagu kepahlawanan, yang menggugah jiwa nasionalisme. Maestro musik ini menyandang predikat komponis pejuang legendaris Indonesia.


Nama:Ismail Marzuki

Lahir:Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914

Meninggal:25 Mei 1958

Profesi:Komponis

Karya:250 lagu, di antaranya: Rayuan Pulau Kelapa yang dicipta tahun 1944, Gugur Bunga (1945), Halo-Halo Bandung (1946), Selendang Sutera (1946), Sepasang Mata Bola (1946), dan Melati di Tapal Batas (1947). Penghargaan:Pahlawan Nasional


Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim


Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim
Kiai Haji Abdul Hasjim dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 1 Juni tahun 1914. Ayah beliau adalah KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Beliau anak kelima dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.
Masa kecilnya diisi dengan pengasuhan di Madrasah Tebuireng hingga usia 12 tahun. Pada usia 13 tahun, beliau sempat mondok dan belajar di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo, selama 25 hari, mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadhan. Kemudian pindah ke Pesantren Lirboyo, Kediri, sebuah pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Karim, teman dan sekaligus murid ayahnya.
Pada usia 15 tahun, beliau kembali ke Tebuireng. Beliau semakin rajin belajar dan juga rajin membaca Koran dan majalah baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab. Beliau mulai belajar Bahasa Arab dan Belanda ketika berlangganan majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Setelah itu belajar Bahasa Inggris.
Pada usia 18 tahun, pada tahun 1932, Abdul Wahid pergi ke tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Mereka berdua, selain menjalankan ibadah haji, juga memperdalam ilmu pengetahuan seperti nahwu, shorof, fiqh, tafsir, dan hadis. Ia menetap di tanah suci selama 2 tahun.Sepulang dari tanah suci, beliau membantu ayahnya mengajar di pesantren. Pada usianya baru menginjak 20-an tahun, Kiai Wahid sudah membantu ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, mewakili sang ayah dalam berbagai pertemuan dengan para tokoh.
Pada tahun 1936, Kiai Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam. Beliau juga mendirikan taman bacaan (Perpustakaan Tebuireng) yang menyediakan lebih dari seribu judul buku. Perpustakaan ini juga berlangganan majalah seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya.
Lalu, ia menikah dengan Munawaroh (lebih dikenal dengan nama Sholichah), putri KH. Bisyri Sansuri (Denanyar Jombang) pada hari Jumat, 10 Syawal 1356 H./1936 M. dari hasil pernikahannya, beliau dikarunia enam orang anak yaitu Abdurrahman, Aisyah, Salahuddin, Umar, Lily Khodijah, dan Muhammad Hasyim.
Di tengah kesibukannya mengelola Tebuireng, Kiai Wahid aktif menjadi pengurus NU. Beliau giat mengembangkan dan mereorganisasi madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia. Ia menerbitkan Majalah Suluh Nahdlatul Ulama dan juga aktif menulis di Suara NU dan Berita NU. Kemudian tahun 1946, Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Tanfidiyyah PBNU menggantikan Kiai Achmad Shiddiq yang meninggal dunia.Pada bulan November 1947, Wahid Hasyim bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Jogjakarta. Akhirnya diputuskan pendirian Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai politik Islam di Indonesia. Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai Hasyim Asy’ari. Namun Kiai Hasyim melimpahkan semua tugasnya kepada Wahid Hasyim.
Dalam Masyumi tergabung tokoh-tokoh Islam nasional, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Zainul Arifin, Mohammad Roem, dr. Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto, Mohammad Natsir, dan lain-lain.
Pada tahun 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), sebuah federasi partai dan ormas Islam di Indonesia. Setelah masuknya NU, dilakukan reorganisasi dan saat itulah Kiai Wahid terpilih menjadi ketua MIAI, dalam Kongres tanggal 14-15 September 1940 di Surabaya.
Di bawah kepemimpinan Kiai Wahid, MIAI melakukan tuntutan kepada pemerintah Kolonial Belanda untuk mencabut status Guru Ordonantie tahun 1925 yang sangat membatasi aktivitas guru-guru agama. Bersama GAPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan PVPN (Asosiasi Pegawai Pemerintah), MIAI juga membentuk Kongres Rakyat Indonesia sebagai komite Nsional yang menuntut Indonesia berparlemen.
Pada tahun 1942, Pemerintah Jepang menangkap Hadratusy Sayeikh Kiai Hasyim Asy'ari dan menahannya di Surabaya. Wahid Hasyim berupaya membebaskannya dengan melakukan lobi-lobi politik. Akhirnya pada bulan Agustus 1944, Kiai Hasyim Asy'ari dibebaskan. Sebagai kompensasinya, Pemerintah Jepang menawarinya menjadi ketua Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Wahid Hasyim memanfaatkan jabatannya untuk persiapan kemerdekaan RI bersama sama dengan para tokoh nasional lainnya. Dia membentuk Kementerian Agama, lalu membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer khusus kepada para santri, serta mendirikan barisan pertahanan rakyat secara mandiri. Inilah cikal-bakal terbentuknya laskar Hizbullah dan Sabilillah yang, bersama PETA, menjadi embrio lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tanggal 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyooisakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Wahid Hasyim menjadi salah satu anggotanya. beliau merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Jakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi Negara.
Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September 1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI, Kiai Wahid mengeluarkan tiga keputusan yang sangat mepengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa kini, yaitu : 1. Mengeluarkan Peraturan Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta.2. Mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda-Aceh, Bandung, Bukittinggi, dan Yogyakarta.3. Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang, Banda-Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan, dan Salatiga.
Lalu pada tahun 1950 beliau memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI). Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid Istiqlal sebagai masjid negara.
Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan pindah ke Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman Matraman Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman.
Beliau menjabat sebagai Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman). Mantan Ketua Tanfidiyyah PBNU (1948) dan Pemimpin dan pengasuh kedua Pesantren Tebuireng (1947 – 1950) ini, merupakan reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam Indonesia. Beliau meninggal dunia pada tanggal 19 april 1953 dalam sebuah kecelakaan mobil di Cimindi. Jenazah Kiai Wahid kemudian dibawa ke Jakarta, lalu diterbangkan ke Surabaya, dan selanjutnya dibawa ke Jombang untuk disemayamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng. Atas jasa-jasanya beliau juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.


BIODATA
Nama:Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim
Lahir:Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914
Meninggal:Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953
Agama:Islam
Isteri:Sholichah
Anak:
- Abdurrahman Wahid
- Aisyah Wahid
- Salahuddin Wahid
- Umar Wahid
- Lily Khodijah Wahid
- Muhammad Hasyim Wahid
Ayah:KH. M. Hasyim Asy’ari
Ibu:Nyai Nafiqah
Karir:
- Pengurus Nahdlatul Ulama, mulai dari jabatan Sekertaris NU Ranting Cukir, Ketua Cabang NU Kabupaten Jombang (1938) dan Pengurus PBNU bagian ma’arif (pendidikan), 1940 dan Ketua Tanfidiyyah PBNU, 1948- Ketua Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), 1940
- Pengasuh Pesantren Tebuireng (1947 – 1950)
- Pendiri Sekolah Tinggi Islam (UIN) di Jakarta, 1944
- Anggota BPUPKI dan PPKI, 1945- - Bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Jogjakarta dan mendirikan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), 1948- Ketua Umum Partai NU, 1952

Friday, August 21, 2009

Mayjend TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo


Mayjend TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Sutoyo Siswomiharjo dilahirkan di kebumen, pada tanggal 23 Agustus 1922. Beliau menamatkan sekolah HIS di Semarang. Lalu melanjutkan pendidikan ke AMS juga di Semarang pada tahun 1942. setelah itu beliau mengikuti pendidikan di Balai Pendidikan Pegawai Tinggi di Jakarta. Sebelum menjadi tentara, Sutoyo bertugas sebagai Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo.
Tugas sebagai seorang Militer dimulai saat perjuangan kemerdekaan 1945. Sutoyo menjabat Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo dengan pangkat Kapten (1946). Pada bulan Juni tahun 1946, beliau pernah menjadi ajudan colonel Gatot Soebroto. Kemudian menjadi Kepala Staf CPMD Yogyakarta (1948-1949). Pada tahun 1950 Mayor Sutoyo menjabat sebagai Komandan Batalyon I CPM dan tahun 1951 Danyon V CPM. Tahun 1954 beliau menjabat Kepala Staf Markas Besar Polisi Militer.
Mulai tahun 1955 sebagai Pamen diperbantukan SUAD I dengan pangkat Letkol hingga tahun 1956. Lalu pada tahun yang sama, beliau diangkat menjadi Asisten ATMIL di London. Setelah kembali di tanah air dan selesai mengikuti pendidikan Kursus "C" Seskoad tahun 1960. Pada tahun 1961 naik pangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD. Pada tahun 1964 dinaikan pangkatnya menjadi Brigjen.
Sama seperti Achmad Yani, beliau juga menolak pembentukan angkatan kelima yang terdiri dari buruh dan tani yang dilengkapi dengan senjata. Tanggal 1 Oktober jam 04.00 Brigjen TNI Sutoyo diculik dan dibunuh oleh gerombolan G 30 S/PKI.. Dengan todongan bayonet, mereka menanyakan kepada pembantu rumah untuk menyerahkan kunci pintu yang menuju kamar tengah. Setelah pintu dibuka oleh Brigjen TNI Sutoyo, maka pratu Suyadi dan Praka Sumardi masuk ke dalam rumah, mereka mengatakan bahwa Brigjen TNI Sutoyo dipanggil oleh Presiden. Kedua orang itu membawa Brigjen TNI Sutoyo ke luar rumah sampai pintu pekarangan diserahkan pada Serda Sudibyo. Dengan diapit oleh Serda Sudibyo dan Pratu Sumardi, Brigjen TNI Sutoyo berjalan keluar pekarangan meninggalkan tempat untuk selanjutnya dibawa menuju Lubang Buaya, gugur dianiaya di luar batas-batas kemanusiaan oleh gerombolan G 30 S/PKI.


Nama:Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo

Lahir:Kebumen, 23 Agustus 1922

Gugur:Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965

Agama:Islam

Tanda Penghormatan:Pahlawan Revolusi

Pendidikan:

- HIS di Semarang

- AMS tahun 1942 di Semarang

- Balai Pendidikan Pegawai Negeri di Jakarta.


Karir:

- Pegawai Menengah/III di Kabupaten Purworejo

- Kepala Organisasi Resimen II PT (Polisi Tentara) Purworejo dengan pangkat Kapten (1946)

- Kepala Staf CPMD Yogyakarta (1948-1949)

- Komandan Batalyon I CPM (1950)

- Danyon V CPM (1951)

- Kepala Staf MBPM (1954)

- Pamen diperbantukan SUAD I dengan pangkat Letkol (1955-1956)

- Asisten ATMIL di London (1956)

- Pendidikan Kursus "C" Seskoad (1960)

- 1961 naik pangkat menjadi Kolonel dan menjabat sebagai IRKEHAD dan tahun 1964 naik pangkat menjadi Brigjend

There was an error in this gadget

Followers

Sumber Pengunjung yg Telah Membaca Blog ini

Pengunjung Sedang On-line
Total Pengunjung
Bunga-Bangsa.Blogspot.Com
There was an error in this gadget