"Selamat Datang... Demi Perkembangan Blog Ini di Mohon Mengisi Form Komentar"

Thursday, September 3, 2009

Siti Hartinah Soeharto


SITI HARTINAH SOEHARTO

Siti Hartinah (Ibu Tien Soharto) lahir di Desa Jaten pada tanggal 23 Agustus 1923 dari pasangan RM Soemoharjomo dan R. Aj. Hatmanti. Ia merupakan anak kedua dari 10 bersaudara. Kakaknya adalah R. Aj. Siti Hartini, sedangkan adiknya adalah RM Ibnu Hartomo, RM Ibnu Harjatno, R. Aj. Siti Hartanti, RM Ibnu Harjoto, RM Ibnu Widojo, R. Aj. Siti Hardjanti, RM Bernadi Ibnu Hardjojo, dan RM Sabarno Ibnu Harjanto.Masa kecilnya diwarnai dengan berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya yang ditugaskan ke berbagai daerah.
Perpindahan pertama yang dialami Siti Hartinah terjadi ketika masih berusia 3 tahun yaitu pada tahun 1925. Ayahnya, RM. Ng. Soemoharjomo menempati jabatan baru sebagai Panewu Pangreh Praja (setingkat Camat) ditugaskan ke Jumapolo, sebuah kota Kecamatan di Karanganyar sekitar 26 Km dari Kota Solo.
Pada usia lima tahun, Siti Hartinah kembali harus berpindah tempat tinggal mengikuti orangtuanya. Kali ini pindah ke Matesih, Kabupaten Karanganyar di kaki Gunung Lawu. Di Matesih terdapat satu sekolah dasar yang disebut sekolah Ongko Loro. Sekolah ini hanya menyelenggarakan pendidikan formal selama dua tahun. Siti Hartinah masuk ke sekolah ini. Suatu ketika seorang sahabat ayahnya, Abdul Rachman, datang dari Solo. Abdul Rachman bermaksud mengangkat salah seorang anak Panewu Soemoharjomo. Pilihannya jatuh pada Siti Hartinah. Meskipun berat hati, akhirnya permohonan Abdul Rachman dikabulkan. Siti Hartinah pun ikut keluarga baru di Solo. Di sana ia sekolah di salah satu sekolah elit, HIS (Holland Indlanche School). Untuk pertama kalinya, ia berhubungan dengan sistem pendidikan Belanda.Sayangnya, baru setahun bersama dengan keluarga Abdul Rachman,Siti Hartinah terpaksa harus kembali ke keluarganya dan meninggalkan HIS karena terserang penyakit cacar. Ia pun kembali ke desa. Ia tidak kembali ke Matesih, melainkan ke Kerjo, karena orangtuanya sudah kembali dipindahkan. Di tempat baru, setelah sembuh, ia kembali masuk sekolah. Tentu saja tidak di HIS, melainkan di sekolah Ongko Loro yang ada di desa itu.Pada tahun 1933, Wedana Soemoharjomo memboyong keluarganya ke Wonogiri, termasuk Siti Hartinah. Di Wonogiri, ia kembali masuk HIS, duduk di bangku kelas III. Masa Remaja
Siti Hartinah menghabiskan masa remajanya di kota Wonogiri. beliau menyelesaikan sekolahnya di HIS. Selama bersekolah ia selalu memakai kebaya, bukan memakai rok. Hanya pada kegiatan kepanduan JPO (Javaanche Padvinder Organisatie) ia diizinkan orangtuanya memakai rok, pakaian seragam JPO. Karena rajin mengikuti latihan-latihan di JPO, akhirnya dalam dirinya tumbuh tunas-tunas idealisme yang terus berkembang.
Namun, beliau tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya menjadi Wedana Wonogiri hanya dalam waktu lima tahun. Kemudian ia dipindahkan menjadi Wedana di Wuryantoro. Dua tahun kemudian ia pun dipensiunkan.Keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan cita-cita menjadi seorang dokter memang tidak tercapai. Tetapi, dengan mengalihkan kegiatan-kegiatan lainnya seperti membatik, belajar menari dan menyanyi tembang Jawa, menulis syair, ternyata memenuhi dorongan dan tuntutan jiwa remajanya.

Masa Pendudukan Jepang Sebelum Jepang memasuki kota Solo pada tahun 1942, Siti Hartinah kembali memasuki gerakan kepanduan di Pandu rakyat Indonesia. Setelah Jepang memasuki kota Solo, terjadi perkembangan yang sangat cepat di segala bidang kemasyarakatan dan pemerintahan. Tentara pendudukan Jepang mengadakan pendidikan dan kursus-kursus, termasuk kursus bahasa Jepang. Selain dibentuk pula organisasi-organisasi kemasyarakatan, termasuk organisasi wanita Fujinkai. Siti Hartinah setelah mendapat izin orangtuanya segera mendaftar di organisasi tersebut. Dalam organisasi itu dilatih baris-berbaris, latihan kepemimpinan, bagaimana melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh pergerakan, dan lain-lain. Dari sini, benih-benih semangat nasionalisme muncul di kalangan remaja putri Solo yang terkenal lemah lembut. Mereka sesungguhnya memiliki semangat tinggi untuk turut aktif dalam gerakan mewujudkan kemerdekaan.
Siti Hartinah juga mengikuti kursus bahasa Jepang pada orang Jepang yang sudah lama menetap di Solo sebagai pengusaha pada zaman kolonial Belanda, bukan pada tentara pendudukan Jepang. Dalam waktu singkat ia sudah mahir berbahasa Jepang.
Laskar Putri Indonesia Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, rakyat Solo segera melakukan mobilisasi untuk mendukung kemerdekaan. Putri-putri Solo yang gemulai itu pada tanggal 11 Oktober 1945 membentuk organisasi bersenjata yang mereka namakan Laskar Puteri Indonesia.
Dalam waktu singkat, jumlah anggota Laskar Puteri Indonesia meningkat cepat. Mereka dilatih oleh perwira dari Batalyon yang dipimpin Mayor Soeharto. Persenjataan pun diperoleh dari batalyon yang sama. Dengan memiliki 120 pucuk senjata, laskar itu pun telah menjelma menjadi pasukan tempur wanita.

LPI bertujuan untuk membentuk pasukan bantuan untuk melayani kepentingan pasukan garis depan dan garis belakang demi suksesnya perjuangan. Komandan LPI diserahkan kepada nona Soedijem, sedangkan wakilnya adalah nona Sajem. Siti Hartina duduk di staf yang mengendalikan urusan perlengkapan atau logistik. LPI menyelenggarakan dapur-dapur umum di medan pertempuran dan membatu markas-markas pertempuran, membantu tugas-tugas kesehatan PMI, mencari peralatan, makanan untuk Kesatuan yang membutuhkan, menyelenggarakan latihan-latihan kemiliteran dan lain-lain.
Meskipun LPI memiliki andil besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, namun keberadaannya tidak dapat bertahan lama. Organisasi itu terbentur pada peraturan pemerintah yang mengambil kebijakan rasionalisasi kelaskaran bersenjata. Atas dasar kebijakan tersebut, maka di penghujung tahun 1946, LPI dibubarkan.Siti Hartinah yang masing memiliki semangat perjuangan yang kuat bergabung dengan Laskar Rakyat Indonesia dan duduk di seksi keuangan. Siti Hartinah bertugas mengelola administrasi keuangan, baik yang masuk maupun yang keluar.Di samping mengerjakan pekerjaan tersebut, perhatian Siti Hartinah terhadap keluarga korban perang sangat luar biasa. Ia akan mendatangi keluarga yang ditinggal oleh suami atau ayah mereka yang gugur di medan pertempuran.

Bertemu Kekasih Usia Siti Hartinah terus bertambah, namun ia tidak juga menunjukkan tanda-tanda tertarik pada lawan jenis. Orang tua dan semua keluarganya khawatir dara berlesung pipit ini tidak kunjung mendapat jodoh. Padahal, Siti Hartinah sendiri sering berdoa agar dirinya diberi jodoh yang benar-benar cocok dan tidak hanya sekadar sebagai suami tetapi juga sebagai kawan seperjuangan sepanjang jalan kehidupan nantinya. Hingga pada suatu hari datanglah utusan keluarga Prawirowihardjo yang merupakan orang tua angkat Soeharto bermaksud melamar Siti Hartinah. Sebelum lamaran dilakukan, ada kegamangan di hati pemuda Soeharto kalau lamaran itu bakal ditolak. Alasannya, dia berasal dari kalangan biasa, sedangkan Siti Hartinah merupakan keluarga bangsawan.Barangkali inilah yang namanya jodoh. Ketika yang melamar adalah seorang perwira muda bernama Soeharto, dia sama sekali tidak menunjukkan keberatannya.Perkawinan kedua insan yang tidak melakukan masa pacaran sebelumnya terjadi pada tanggal 26 Desember 1947. Upacara pernikahan dilangsungkan secara amat sederhana. Dalam kondisi yang darurat seperti itu, sangat wajar jika tidak ada dokumentasi dalam bentuk foto perkawinan dua insan itu. Pada waktu menikah, usia Soeharto adalah 26 tahun sedangkan Siti Hartinah 24 tahun.

Sebagai Istri Prajurit tiga hari setelah perkawinan, Siti Hartinah diboyong suaminya ke Yogyakarta. Di kota ini Soeharto yang seorang perwira militer bertugas mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman Belanda. Kini Siti Hartinah telah mendapat tugas baru yaitu sebagai istri komandan resimen.Di Yogyakarta, Letnan Kolonel Soeharto telah menyiapkan sebuah rumah beserta isinya yang sederhana untuk tempat tinggal mereka. Rumah itu terletak di Jalan Merbabu No. 2. Setelah tiga bulan berpisah, barulah Siti Hartinah kembali berkumpul dengan suaminya. Kepergian itu bukan sekali itu saja terjadi. Setelah tinggal selama 9 bulan, Ny. Soeharto mulai memperlihatkan tanda-tanda kehamilan. Itu berarti beberapa bulan lagi ia akan memiliki anak. Sayangnya, pada saat itu suaminya justru harus sering meninggalkannya. Aksi militer Belanda yang semakin hebat membuat tugas suaminya menjadi lebih berat. Dalam kondisi demikian, Soeharto lebih memilih mendahulukan tugasnya sebagai anggota militer yang harus maju ke medan pertempuran dan meninggalkan istrinya di rumah. Namun keberadaan kakaknya, Ny Oudang (Siti Hartini), adiknya Hardjanti, Ibu Dwijo dan keluarga Amir Moertono di rumah sungguh sangat membantu. Ia tidak kesepian dan jika ada kesulitan tidak jauh dari orang-orang yang bisa dimintai bantuan.
Pada tanggal 23 Januari 1949 di rumah pengungsiannya, Ny Soeharto mengalami kejadian baru yang belum pernah dialaminya. Ia melahirkan anak pertamanya. Ia melahirkan dibantu seorang bidan yang bersedia datang dan menginap di rumah itu. Sementara suaminya sedang berada di medan tempur yang tidak diketahui keberadaannya.Berita kelahiran bayi mungil itu akhirnya sampai ke telinga Soeharto. Ia tentu sangat gembira mendengar berita itu. Sang bayi itu kemudian diberi nama Siti Hardijanti Hastuti (Tutut).
Setelah berlangsungnya serangan dan Belanda akan menarik mundur pasukan dari Yogyakarta, Soeharto secara diam-diam mendatangi Sri Sultan di keraton. Setelah bertemu, malamnya ia menginap di dapur keraton. Pada saat itu, Soeharto mengirimkan utusan agar istrinya datang ke keraton. Dengan diantar Letnan Amir Moertono, Ny.Soeharto dengan membawa bayi kecil. Mereka pun kemudian bertemu. Itu adalah pertemuan pertama setelah berpisah selama 4 bulan. Soeharto tidak habis-habis mencium bayinya.
Setelah keadaan benar-benar aman dan pemerintah RI kembali ke Yogya, keluarga Soeharto pun kembali berkumpul. Posisi Soeharto pun sudah berubah. Ia kini menjadi Komandan Brigade III Divisi Diponegoro. Hengkangnya Belanda dari bumi pertiwi tidak berarti masalah selesai. Pemberontakan dari dalam pun mulai bermunculan. Salah satunya adalah pemberontakan Andi Aziz di Makassar. Letkol Soeharto ditugaskan sebagai komandan pasukan Garuda Mataram untuk menumpas pemberontakan. Tanggal 21 April 1950 Brigade Garuda Mataram meninggalkan Semarang. Siti Hartinah kembali harus berpisah dengan suaminya. Setelah suaminya pergi menunaikan tugas, Ny.Soeharto tidak tinggal diam. Dia mengunjungi istri-istri prajurit anak buah suaminya. Sulitnya komunikasi membuat perasaan khawatir itu semakin menjadi karena tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi di Makassar.Setelah beberapa bulan berpisah, Siti Hartinah memutuskan untuk mengunjungi suaminya di Makassar. Sebelum berangkat, sekali lagi, Ny. Soeharto mengunjungi istri prajurit dan bertanya apakah ada yang ingin menitipkan surat untuk suaminya. Ternyata sangat banyak surat titipan. Ia dengan senang hati membawa surat-surat tersebut. Surat itu tentunya akan menambah semangat suami mereka yang ada di garis depan. Siti Hartinah hanya satu minggu berada di Makassar. Dalam keberangkatannya itu ia membawa anak sulungnya Tutut yang baru berusia 14 bulan. Selama perjalanan Tutut tidak rewel sama sekali. September 1950 seluruh prajurit Brigade Mataram kembali ke Yogyakarta, kecuali 17 orang prajurit yang gugur. Pasukan KNIL/KL telah menyerah dan meninggalkan Makassar.Pada tanggal 1 Mei 1951, keluarga Soeharto bertambah semarak setelah kehadiran anak kedua yang diberi nama Sigit Haryoyudanto.
Beberapa bulan setelah Sigit lahir, Soeharto diberi tugas untuk memimpin Brigade Pragola I di Salatiga. Mereka sekeluarga pun akhirnya meninggalkan Yogya menuju Salatiga. Pada tanggal 1 Maret 1953, keluarga itu harus pindah rumah lagi. Kali ini menuju kota Solo. Di kota ini Letnan Kolonel Soeharto menjabat sebagai Komandan Resimen 15 (eks Brigade Panembahan Senopati). Di kota inilah lahir putra ketiga mereka yang diberi nama Bambang Tri Hatmojo pada tanggal 23 Juli 1953. Anak keempat, Siti Hediati Haryadi (Titik) lahir pada tanggal 14 April 1959 di Semarang. Pada saat itu Soeharto menjabat sebagai Panglima TT-IV/Diponegoro.

Kelahiran anak kelima yang diberi nama Hutomo Mandala Putra (Tomy) pada tanggal 12 Agustus 1962 cukup istimewa. Pada saat itu Ny. Soeharto tidak dapat ditunggui suaminya yang tengah mengemban tugas besar untuk membebaskan Irian Barat dengan nama Operasi Jayawijaya. Soeharto diberi kepercayaan sebagai Komando Mandala. Putri bungsu, Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamik) lahir melalui operasi di Jakarta pada tanggal 23 Agustus 1964. Pada saat itu Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Ny. Soeharto mengakui, hidup dengan mengandalkan gaji suaminya cukup berat. Meskipun demikian, ia tidak mengeluh dan tidak meminta lebih secara materi. Apa yang diberikan suami, itulah yang digunakan untuk mengurus rumah tangga meskipun tidak cukup. Untuk mengatasinya, ia sering membuat kain batik. Kain itu dijual ke kerabatnya. Hasilnya digunakan untuk menutupi kekurangan penghasilan suami.

Kudeta PKI Pada waktu Mayor Jenderal Soeharto diangkat menjadi Panglima Kostrad, PKI sudah berada di atas angin. Dengan bersandar pada wibawa dan kharisma Bung Karno, PKI bertambah garang dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. PKI sangat mendukung langkah Bung Karno untuk melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Dukungan itu tidak sekadar ucapan, melainkan juga pengerahan massa dari unsur Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan Pemuda Rakyat. Mereka dilatih sebagai pasukan cadangan tempur di dekat lapangan udara Halim Perdanakusumah. Namun, latihan itu pada dasarnya adalah persiapan PKI untuk melancarkan Gerakan 30 September.Beberapa hari sebelum meletus Gerakan 30 September, pimpinan dan pengurus Persit Kartika Chandra diundang untuk mendengarkan penjelasan Menteri/Panglima AD Jend A Yani. Saat itu Ny.Soeharto adalah Ketua Persit. Jenderal Yani menjelaskan gawatnya situasi politik saat itu dan bagaimana peran TNI-AD.
Sepulang dari acara itu, Ny.Soeharto membuat sup kaldu tulang sapi kesukaan anak-anaknya. Pada waktu membawa sup ke meja makan, Tomy berlari-lari dan menabraknya. Ia pun tersiram kuah sup panas yang melepuhkan kulitnya. Tomy segera dibawa ke RS Gatot Subroto untuk dirawat. Pada tanggal 30 September, Mayjen Soeharto dan istrinya menjenguk Tomy di rumah sakit. Menjelang pukul 12 malam, Ny. Soeharto menyuruh suaminya pulang karena di rumahnya hanya tinggal putri bungsu mereka, Mamik yang baru berusia satu tahun. Soeharto pun pulang.
Pada tanggal 1 Oktober, pagi-pagi sekali, datang seorang tamu, Hamid nama tamu itu, memberitahukan kepada Mayjen Soeharto mengenai tembak-menembak di beberapa tempat. Hal itu membuatnya bertanya-tanya, apa yang telah terjadi? Broto Kusmardjo kemudian datang melaporkan bahwa beberapa Perwira Tinggi TNI-AD telah diculik. Tidak dijelaskan siapa pelakunya.Lonceng jam enam belum berbunyi ketika Letkol Soejiman diutus Mayjen Umar Wirahadikusumah yang menjabat Pangdam V Jaya melaporkan bahwa di sekitar Monas dan Istana Presiden terdapat konsentrasi pasukan yang tidak dikenal. Ia langsung berkata, “Segera kembali dan laporkan kepada Pak Umar saya akan cepat datang ke Kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan Komando Angkatan Darat.”Pada pukul 7.00 WIB lebih sedikit, siaran warta berita RRI memberitakan telah terjadi gerakan militer di tubuh Angkatan Darat. Gerakan yang menamai Gerakan 30 September itu dikepalai Letkol Untung. Untung adalah bekas anak buah Soeharto ketika dia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo. Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 444 dan pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI Alimin. Mendengar berita itu, Soeharto segera mengambil kesimpulan bahwa gerakan yang dipimpin Untung itu adalah kup yang ingin menguasai negara secara paksa. Ia memutuskan untuk melawan gerakan tersebut. Tahap pertama adalah mengamankan pasukan yang berjaga-jaga di Monas. Tahap berikutnya adalah memerintahkan Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk merebut kembali RRI dan pusat telekomunikasi yang telah dikuasai para pemberontak. Tugas selanjutnya adalah menyerbu pusat gerakan kontrarevolusi di dekat Halim Perdanakusuma.
Pada saat Soeharto mengambil kebijakan strategis untuk menyelamatkan bangsa, Ny. Soeharto tengah menunggui putranya di RSPAD. Akhirnya, ia pun pulang membawa Tomy. Suaminya masih ada di Markas Kostrad dan meninggalkan pesan agar membawa anak-anaknya mengungsi ke tempat tinggal ajudan Pak Harto di Kebayoran Baru sambil terus mengikuti perkembangan melalui radio.

Sedikit demi sedikit situasi dapat diatasi. RRI dan pusat telekomunikasi dapat direbut kembali. Segera disiarkan pengumuman telah terjadi upaya penculikan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat pada tanggal 1 Oktober 1965. Mereka yang diculik adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Soeprapto, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal Haryono M.T., Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo.Sejak 1 Oktober 1965 hingga 11 Maret 1966 dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang luar biasa. Penculikan, penemuan korban yang sudah tewas, munculnya gelombang aksi demonstrasi yang menghendaki pembubaran PKI yang dikenal dengan nama Tritura, hingga pemberian Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).Pada tanggal 11 Maret diadakan rapat kabinet di Istana. Pada saat itu, Soeharto tidak dapat hadir karena sedang sakit flu, batuk-batuk, dan demam. Namun, rapat tidak dapat berlangsung dengan baik, karena Presiden Soekarno dengan tergesa-gesa meninggalkan rapat setelah mendapat laporan adanya pasukan tak dikenal di luar istana. Dengan kondisi yang demikian, Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen M Yusuf, dan Brigjen Amirmachmud segera menemui Soeharto dan melaporkan apa yang terjadi di sidang kabinet.Ketiga jenderal itu kemudian berinisiatif menyusul Presiden Soekarno ke Istana Bogor dengan maksud agar Bung Karno menjadi tenteram dan tidak merasa dikucilkan TNI-AD. Sebelum pergi, Soeharto berkata, “Sampaikan salam dan hormat saya kepada Bung Karno. Laporkan, saya dalam keadaan sakit. Kalau diberi kepercayaan, keadaan sekarang ini akan saya atasi.”Tiga jenderal itu berhasil meyakinkan Bung Karno bahwa Pak Harto adalah orang yang tepat untuk mengatasi keadaan dan memulihkan keamanan. Ketiganya kembali ke Jakarta dengan membawa dokumen yang amat penting, Supersemar. Mereka langsung menuju rumah Panglima Kostrad meskipun hari telah larut malam. Setelah membaca surat perintah itu, Mayjen Soeharto langsung berganti pakaian loreng lengkap dan segera pergi ke Markas Kostrad. . Keesokan harinya pada pukul 6.00 WIB RRI menyiarkan berita pembubaran PKI. Pembubaran PKI ini disambut oleh seluruh rakyat Indonesia dengan hati lega. Seminggu kemudian 15 menteri Kabinet Dwikora yang diduga berhubungan dengan PKI dicopot. Era baru kehidupan berbangsa pun dimulai.
Pada tahun 1967, Sidang Istimewa MPRS secara aklamasi mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Ini berarti, Ny. Soeharto yang tadinya adalah istri prajurit kini menjadi istri presiden. Ny. Soeharto yang telah terbiasa dengan kehidupan di lingkungan angkatan bersenjata merasa istilah “pejabat” mengandung arti kesementaraan. Namanya “pejabat” artinya belum definitif. Jika MPRS menganggap tugasnya sudah rampung, maka MPRS sangat mungkin mengangkat orang lain menjadi presiden tanpa embel-embel “pejabat”.
Pada saat diangkat menjadi pejabat presiden, Jenderal Soeharto sempat menolak dengan alasan tidak yakin mampu mengemban tugas berat. Ia juga beralasan tidak mempersiapkan diri untuk memangku jabatan presiden. Setelah banyaknya desakan, ia akhirnya bersedia meski dengan syarat dicoba dulu untuk satu tahun.Pada bulan Maret 1968, MPRS menggelar Sidang Umum ke-V. Kembali pimpinan partai politik dan pejabat TNI Angkatan Darat mendesak agar Pak Harto menerima jabatan presiden dengan alasan tidak ada tokoh nasional yang lain Soeharto yang selama puluhan tahun berperang demi rakyat tergelitik hati nuraninya. Kalau menolak itu berarti takut. Sedangkan menolak untuk membela kepentingan rakyat? Mustahil dilakukannya. Akhirnya ia pun bersedia. Pada tanggal 27 Maret 1968 MPRS mengangkat Pejabat Presiden Soeharto menjadi Presiden RI ke-II. Ny. Siti Hartinah Soeharto yang tadinya tidak merasa menjadi istri presiden akhirnya benar-benar menjadi ibu negara.Pada masa awal kegiatannya sebagai ibu negara, aktivitas sosialnya menjadi fokus perhatiannya. Di luar Jakarta masih ada istana kepresidenan lainnya yaitu Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta (Gedung Agung), dan Istana Tampak Siring di Bali.Meskipun menata kembali istana kepresidenan, namun keluarga presiden lebih memilih tinggal di rumah sendiri (Jln. Cendana). Alasannya, tinggal di rumah sendiri lebih bebas, tidak jauh dari masyarakat, lebih sering bertemu masyarakat. Perubahan dalam protokol istana dapat terlihat setelah Ibu Tien memberi perhatian untuk membenahinya. Selanjutnya, interior istana dipercantik dengan pewarnaan yang menarik. Ruangan resepsi diberi karpet taiping. Warna merah untuk Istana Merdeka dan warna hijau untuk Istana Negara.Taman Mini Indonesia IndahKetika mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat dan menyaksikan taman budaya Timland di Thailand, memberi inspirasi bagi Ibu Tien untuk membangun sebuah taman yang menyajikan keindahan budaya dan lingkungan alam Indonesia. Ibu Tien amat menyadari bahwa kekayaan alam dan budaya Indonesia tidak kalah dengan kekayaan alam dan budaya negara lain. Membangun sebuah miniatur Indonesia menurutnya adalah suatu keniscayaan.Pada bulan Maret 1971, dalam rapat pleno Yayasan Harapan Kita, gagasan ini diutarakan. Setelah memahami maksud dan tujuan dari gagasannya itu, tidak satu pun peserta pertemuan yang tidak setuju. Semuanya mendukung gagasan Ibu Tien. Meskipun demikian, dukungan dari masyarakat luas tidak didapat dengan mudah. Aksi-aksi protes menentang pelaksanaan proyek pembangunan taman mini terus terjadi. Lambat laun aksi demo semakin membesar. DPR yang terbentuk dari hasil Pemilu 1971 dan belum memiliki tata tertib maupun komisi-komisi, segera membentuk panitia khusus untuk secara lugas mendudukkan persoalan pada relnya, agar gagasan Ibu Tien itu lebih jelas, transparan, dan dipahami.Pada tanggal 27 Juni 1972 dimulailah pembangunan proyek MII di lokasi yang sekarang ini berada (Cibubur). Luas tanah untuk proyek ini adalah 100 ha. Pembangunan memakan waktu tiga tahun. Waktu ini adalah reltif cepat. Yang pertama dibangun adalah peta maharaksasa Indonesia (arcipel Indonesia) yang merupakan miniatur Indonesia dibangun di atas tanah seluas 8,5 ha. Arcipel itu menggambarkan kepulauan nusantara di atas hamparan lautan (danau-danau buatan) yang sekaligus berfungsi sebagai tempat rekreasi olah raga air. Di seputar arcipel itu berdiri rumah adat dari 26 propinsi.Selain itu ada juga bangunan joglo yang terdiri dari Pendopo Agung Sasono Utomo dan Sasono Langen Budoyo yang merupakan centrum seluruh rumah adat yang berdiri di atas garis lurus menghadap ke barat segaris dengan Tugu Api Pancasila dan gerbang TMII. Di sana juga ada Gedung Pusat Percontohan Niaga, Museum Indonesia, rumah-rumah ibadah agama-agama resmi di Indonesia, gedung pusat pengelolaan, taman buah, taman bunga, taman burung, air terjun buatan, fasilitas restoran dan warung-warung, tempat pameran, teater, dan sebagainya.Proyek Miniatur Indonesia Indah berakhir ketika hasilnya berupa sebuah Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada tanggal 20 April 1975 Presiden Soeharto dalam pidato peresmiannya mengatakan berdirinya taman itu berkat hasil gotong-royong seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun 1984, di taman itu telah berdiri sebuah teater film termegah yang lain dari yang lain. Teater Film Keong Emas. Arsitekturnya menyerupai keong raksasa berwarna kuning keemasan. Interiornya nyaman dan membuat siapa saja merasa nikmat saat menonton film mengenai Indonesia yang Indah.Jumlah pengunjung TMII terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 1988 jumlah pengunjung mencapai 37 juta orang. Enam tahun kemudian telah membengkak menjadi 74 juta orang. Jumlah pengunjung pelajar dan mahasiswa terus meningkat setiap tahunnya. Sedangkan fasilitas TMII pun terus mengalami penambahan dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan zaman. Ibu Tien telah mencurahkan eprhatiannya untuk bangsa ini. Ide idenya mencetuskan beberapa gagasan yang melahirkan beberapa proyek monumental, di antaranya Taman Mini Indonesia Indah. Beliau meninggal, Minggu 28 April 1996, menginggalkan karya gemilang bagi bangsanya. Setelah meninggal, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Nama:Siti Hartinah Soeharto

Nama Panggilan:Ibu Tien Soeharto

Lahir:Desa Jaten, Surakarta 23 Agustus 1923

Meninggal:Jakarta, Minggu 28 April 1996

Dimakamkan:Astana Giribangun,Surakarta

Suami:Soeharto (menikah 26 Desember 1947)

Anak:Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)Sigit HarjojudantoBambang TrihatmodjoSiti HediatiHutomo Mandala Putra (Tommy)Siti Hutami Endang Adiningsih

Ayah:RM Soemoharjomo

Ibu:R. Aj. Hatmanti

Pendidikan:Sekolah dasar yang disebut sekolah Ongko Loro fi Matesih dan HIS (Holland Indlanche School) di Solo dan Wonogiri

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget

Followers

Sumber Pengunjung yg Telah Membaca Blog ini

Pengunjung Sedang On-line
Total Pengunjung
Bunga-Bangsa.Blogspot.Com
There was an error in this gadget